Untuk Peringatan Dini Tsunami, BMKG Akui Indonesia Tak Lagi Gunakan Buoy sejak 2008

Logo
Alat pendeteksi tsunami (buoy) ditarik ke darat oleh para nelayan di Pantai Ngadipuro, Trenggalek, Jatim.

(RIAUHITS.COM) JAKARTA - Indonesia saat ini menggunakan basis pemodelan komputer saat mendeteksi gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Menurut BMKG, karena itu Indonesia tidak lagi menggunakan buoy sebagai alat deteksi dini tsunami.

"Jadi, peringatan dini di Indonesia tentang tsunami dibangun tahun 2008. Sejak dibangun, itu sudah 10 tahun, itu tidak pernah menggunakan buoy. Jadi, untuk peringatan dini itu ada beberapa metode, cara. Negara lain memang ada yang pakai buoy. Tapi saat itu, pimpinan atau pemerintah 2008, khususnya untuk BMKG, diputuskan menggunakan sistem peringatan dini berbasis pemodelan komputer dengan perhitungan matematika," ucap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam diskusi Palu Retak, Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/10/2018). 

Sistem pemodelan komputer itu, imbuhnya, merekam data gelombang gempa dari ratusan sensor gempa yang dipasang di seluruh wilayah Indonesia. Sensor itu mengirimkan data berupa pusat gempa dan berapa besar guncangan ke BMKG.

"Sensor ini mengirim data ke BMKG, kemudian dalam 2 menit data gelombang gempa segera dihitung oleh komputer untuk menetapkan, mengetahui di mana pusat gempa, pada kedalaman berapa, magnitudo berapa, dan terjadi kira-kira pukul berapa. Data perlu diketahui, kalau tahu pusat gempa di mana, komputer bisa terus bekerja, memodelkan apa gempa itu memicu tsunami apa tidak," jelasnya. 

Dia memaparkan, saat kejadian gempa Sulteng, awalnya sistem tersebut mendeteksi pusat gempa berada di Donggala dan mendeteksi akan ada tsunami. Akan tetapi, data itu tidak langsung dikirimkan ke masyarakat, tetapi diverifikasi oleh pakar terlebih dulu paling lama 5 menit setelah gempa. 

"Diverifikasi oleh operator dan pakar, meski nggak ada gempa kami itu berjaga terus sehingga sekitar 4 menit menjelang 18.07 Wita bisa kami umumkan peringatan dini berbasis perhitungan komputer yang diverifikasi oleh expert," terangnya.

Usai data diverifikasi para pakar, BMKG langsung menginformasikan kepada masyarakat tentang potensi tsunami itu. Ditegaskan BMKG, Indonesia tak menggunakan buoy lagi untuk mendeteksi tsunami. Namun, BMKG masih dapat mendeteksi secara dini tsunami.

"Jadi, kami sejak awal nggak pakai buoy. Ini ada kesalahpahaman seakan-akan nggak ada buoy, jadi nggak bisa peringatan dini," bebernya.(rzt)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)