Pacu Jalur, Tradisi Budaya Kuansing Tak Lekang Dimakan Waktu

Logo

RIAUHITS.COM - Siapa yang tak mengenal pacu jalur  yang telah mendunia. Pesta rakyat warisan leluhur telah menjadi  tradisi budaya turun temurun di masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing).

Pacu jalur  merupakan perlombaan dayung menggunakan jalur tradisional yang menjadi ciri khas daerah Kuantan Singingi. Sejarah pacu jalur berawal abad ke 17 di mana jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan di daerah di sepanjang Sungai Kuantan yakni Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu dan Kecamatan Cerenti di hilir. Saat itu memang belum berkembang transportasi darat, hanya melalui sungai.

 Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya pacu jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang akan dipadati masyarakat.

Bupati Kuantan Singingi Dr H Suhardiman Amby MM mengatakan tradisi pacu jalur Kuantan Singingi adalah ikonik pariwisata unggulan di Kabupaten Kuantan Singingi bahkan Riau. Sekarang, tradisi yang sudah berusia seratus tahun lebih itu, sudah masuk menjadi kalender pariwisata nasional dan sudah masuk tujuh besar kharisma even nusantara pariwisata Indonesia.

" Pemkab berharap, pacu jalur terus menggema, dan bisa tahun ini masuk tiga besar kharisma even nusantara pariwisata Indonesia, "katanya pada kunjungan tim ekspedisi jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Propinsi Riau di Kuansing.

Pacu Jalur Jadi Magnet Perantau Pulang Kampung

Pacu Jalur adalah event pariwisata kebanggaan orang Kuantan Singingi dan juga telah menjadi kalender pariwisata. Tradisi budaya setiap tahun perlombaan pacu jalur juga menjadi magnet  luar biasa bagi masyarakat Kuansing di rantau. Keinginan pulang  kampung untuk menyaksikan langsung lomba tersebut lebih besar daripada saat raya Idul Fitri menyaksikan langsung lomba tersebut.

Pelaksanaan pacu jalur ini biasanya dilaksanakan pada Bulan Agustus, sekitar 4-5 hari tergantung dari jumlah peserta. Jika dilihat jumlah peserta selalu naik dari tahun ketahun, juga peserta ada dari luar negeri seperti malaysia. Biasanya siang hari perlombaan pacu Jalur, malamnya event kesenian masing- masing daerah.

"Setiap tahun saya menyempatkan diri pulang berapa hari ke Kuansing menyaksikan  langsung pacu jalur di tepian Norasa. Puluhan ribu pengunjung akan memadati kita jalur merupakan julukan Kuantan Singingi , baik siang dan malamnya, " ungkap Ponisman warga Perantauan yang juga Ketua Kuansing Kecamatan Tualang, Siak.

Ponisman tak lupa menyampaikan  terima kasih kepada pemerintah setempat  dengan  pacu jalur menjadi event pariwisata nasional. Lomba ini selalu dipadati masyarakat sampai luar negeri ikut menyaksikan.

" Alhamdullilah, pemerintah sangat mendukung dan menjadikan kalender pariwisata yang tiap tahun diadakan secara nasional. Harapan semoga sampai tingkat internasional, "katanya dengan nada bangga saat bercerita pacu jalur.

Melihat  Pembuatan Jalur Kampung Baru Sentajo

Setiap kampung atau desa harus memiliki jalur, sehingga jika suatu kampung tidak memiliki jalur merupakan suatu aib. Setiap kampung berupaya menyediakan jalur yang dapat dijadikan kebanggaan  masyarakat setempat yang memiliki nilai tersendiri.

Begitu juga di Desa Kampung Baru Sentajo Kecamatan Sentajo Raya membuat jalur untuk dilombakan. Tim ekspedisi LKTJ PWI Propinsi Riau mendapatkan kesempatan melihat  pekerjaan jalur baru yang baru setengah dikerjakan.

Ketua jalur Desa Kampung Baru Sentajo Samsuri menjelaskan pekerjaan jalur membutuhkan proses yang panjang. Sebelum membuat jalur, perakitan perahu dimulai dari menebang pohon, maleo atau menarik jalur, hingga membuat jalurnya.

Proses pemilihan kayu jalur juga sangat selektif, tidak sembarang kayu yg bisa digunakan. Biasanya digunakan kayu marsawa, kulim, meranti dan banio. Menebang pohon ,bukan sembarang pohon ditebang, saat akan membuat jalur warga menilainya sebagai acara adat .

Pada proses maelo atau menarik merupakan salah satu tahapan penting dalam tradisi pacu jalur. Besar dan panjangnya kayu tersebut maka diperlukan banyak tenaga manusia untuk menarik atau maelo. Oleh karena itu, kekompakan masyarakat suatu kampung amat diperlukan agar pekerjaan maleo berjalan dengan sukses yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kuantan Singingi.

"Setelah kayu ditebang, saya melaporkan kepada pj kepala desa dan Ketua pemuda kapan menarik kayu dari hutan. Alhamdulillah, saat menarik kayu sekitar dua ribu warga yang ikut meramaikan. Satu hari kayu berhasil keluar, dibantu dengan alat dan langsung dibawa ditempat pekerjaan,"jelasnya.

Pacu Jalur Geliatkan Ekonomi Masyarakat

Lomba pacu jalur memberikan dampak positif bagi masyarakat Kuansing khususnya .Hal tersebut terlihat dari kunjungan wisatawan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebab event pacu jalur memiliki fungsi kultural, edukatif, ideologi, solidaritas sosial dan kekeluargaan.

Bupati berharap agar pacu jalur ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Untuk itu, dia mengajak pelaku usaha UMKM untuk mengemas produk agar lebih menarik.

"Ayo kemas produk yang kita jual dengan menarik, agar para pengunjung tertarik untuk membeli berbagai produk-produk UMKM dari masyarakat, " ujarnya pada pembukaan festival pacu jalur di Tupian Rajo Kecamatan Pangean yang dihadiri tim ekspedisi PWI Riau.

Nursiah salah satu pedagang di pacu jalur di Kecamatan Pangean mengatakan setiap ada pacu jalur,dirinya jualan jajanan makan seperti bakso, nugget bakar dan minuman. Keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada tidak ada lomba pacu jalur.

" Alhamdulillah, jualan di pacu jalur ini lumayan besar.Kalau tak ada lomba tak besar untungnya. Senanglah ada pacu jalur bagi kami pedagang, jualan laku," ungkapnya.

Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuansing, Drs Azhar MM menyampaikan tradisi pacu jalur Kuansing  merupakan tradisi dari dahulu dan tidak bisa lekang dari masyarakat setempat. Sehingga tradisi pacu jalur menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing baik yang berada di sini dan para perantau yang ada diluar Kuansing.

“Masyarakat perantau akan pulang setiap ada event pacu jalur.Tahun lalu minat mereka yang menontot pacu jalur sangat besar dan di medsos sampai tayang 24 juta kali.Ini menunjukkan bagimana pacu jalur menjadi daya tarik sendiri bagi mereka yang tidak bisa hadir langsung di gelanggang pacu untuk menonton,” Katanya dihadapan tim ekspedisi PWI Propinsi.

Penulis: Wiwik Widaningsih



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-pacu-jalur-tradisi-budaya-kuansing-tak-lekang-dimakan-waktu.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)