Sepi Kunjungan Masyarakat, Pembukaan MTQ Tingkat Kota Dumai Kurang Sosialisasi
- Jumat, 02 Agustus 2019
- 1033 likes
Warga Pelalawan Memiliih Bertahan di Rumah akibat Kabut Asap Kian Pekat
- Kamis, 01 Agustus 2019
- 1033 likes
(RIAUHITS.COM) SUNGAI TOHOR - Kunjungan ke Kepulauan Meranti dalam rangka penanggulangan kebakaran pada Jumat (2/8/2019) dilakukan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Letjen Doni Bonardo, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) RI Nazir Foead, dan Gubernur Riau, Syamsuar. Kunjungan itu diawali dengan menggelar rapat koordinasi dan berdialog dengan masyarakat Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur.
Kepala BNPB RI, Letjen Doni Bonardo dalam paparannya menyebut bahwa hutan yang ditebang maupun yang mengalami kebakaran dapat mengurangi oksigen. Sebaliknya, imbuhnya, apabila dijaga dengan baik, akan bermanfaat untuk manusia itu sendiri. Ia menerangkan, tanaman hutan itu berfungsi untuk menyerap karbon dan menghasilkan oksigen.
"Wajah Meranti sudah berubah, jika pada 2014 sebagai pengekspor asap maka pada tahun ini Meranti penghasil oksigen nomor satu di Riau. Jika kami menebang pohon maka sama dengan kami menyiapkan lubang kubur untuk kami sendiri dalam jangka panjang," jelasnya.
Disampaikannya, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) diakibatkan oleh ulah manusia sehingga penangganannya diperlukan dengan cara melakukan pendekatan dan memberdayakan ekonomi masyarakat itu sendiri.
"Karhutla itu 99 persen diakibatkan oleh manusia. Dari sini saya membuat konsep lebih baik mencegah daripada memadamkan. Untuk mencegah ini perlu dilakukan pendekatan kepada masyarakat yang selama ini yang menjadi penyebab kebakaran yakni dengan memberdayakan ekonomi mereka, hanya dengan ini bisa merubah mindset masyarakat agar tidak merusak hutan," paparnya.
"Kalau terbakar banyak uang dan tenaga yang kita keluarkan. Seharusnya, kami belajar dari negara maju, kami tidak ingin Indonesia jadi pengekspor asap, yang kami inginkan Indonesia penyerap karbon dan menghasilkan oksigen," tuturnya.
Lebih jauh diungkapkannya, pihaknya akan menerapkan keberhasilan Kepulauan Meranti dalam mengantisipasi kebakaran di lahan gambut untuk diterapkan di seluruh Indonesia yang memiliki lahan gambut.
"Keberhasilan di Meranti dalam menjaga gambut akan kami copy paste untuk diterapkan di daerah lain di Indonesia yang terjadi kebakaran," bebernya.
"Saya datang ke mari karena dapat informasi dari Deputi IV BRG RI, di mana daerah Meranti yang mengalami kebakaran hebat bisa mengembalikan keadaan, sekaligus memberdayakan ekonomis masyarakat tanpa merusak ekologis, yakni dengan menanam sagu," ucapnya.
Mantan Danjen Koppasus itu menambahkan, sagu sangat bernilai ekonomis. Apabila itu diurus maka tidak ada lagi yang melakukan pembakaran. Di samping itu, lanjutnya, sekat kanal menjaga air dan membasahi gambut sepanjang waktu.
"Saya akan keliling Indonesia yang ada lahan gambutnya, bagaimana kami bisa menyebarkan keberhasilan ini untuk ditularkan ke tempat lain karena kami tidak mau kehabisan tenaga hanya untuk mengurus kebakaran," ungkap lulusan Akademi Militer tahun 1985 itu.
"Sagu itu pangan masa depan, saya melihat peluang, di mana Indonesia mengimpor gandum sebanyak 11 juta ton, jika ini diganti dengan sagu maka masyarakat yang menanam sagu bisa makmur, tapi dengan syarat harus meningkatkan kualitas. Selain itu, saya minta siapkan tim dari Meranti untuk kami bawa keliling Indonesia yang bermasalah dengan Karhutla, biayanya nanti dari BNPB," tutupnya.
Disampaikan Kepala BRG RI, Nazir Foead, Kepulauan Meranti merupakan tonggak sejarah restorasi gambut di Indonesia.
"Meranti tonggak sejarah restorasi gambut di Indonesia, di mana presiden menyaksikan langsung gambut bisa dipulihkan kembali, kami belajar dari masyakat yang melakukan turun temurun membasahi gambut dengan sekat kanal. Keberhasilan Meranti bisa menjadi contoh semua daerah di Riau dan di Indonesia," katanya.
Di sisi lain, menurut Gubernur Riau, Syamsuar tren kebakaran di Riau berubah ke atas, yakni Riau bagian pesisir yang menjadi langganan kebakaran berpindah ke Riau bagian daratan.
"Tren kebakaran di Riau berpindah, di mana kebakaran pindah ke Riau dataran, yang tidak pernah terbakar pun ikut terbakar, ini pasti ada sesuatu. Saya mengapresiasi penanggulangan kebakaran di Meranti yang dipimpin bupati," tuturnya.
Ditambahkan Bupati Kepulauan Meranti, Drs Irwan, semua pihak bergerak untuk mengatasi kebakaran sehingga bisa diminimalkan. Ia menyebut, pihaknya menginisiasi pembangunan sekat kanal agar lahan gambut tetap basah dan mempertahankan tanaman endemik, yakni sagu.
"Selain membangun sekat kanal dan mempertahankan sagu, sudah 10 tahun ini kami menutup untuk perkebunan sawit karena tidak cocok dan akan mengakibatkan subsiden tanah gambut," paparnya.
Dalam kesempatan itu, Kepala BNPB bersama Gubernur Riau dan Kepala BRG RI juga melakukan penanaman sagu di areal embung Desa Sungai Tohor. Rombongan kemudian menyempatkan untuk melihat tanaman sagu yang ditanam Presiden Jokowi dan melihat sentra industri sagu yang akan menjadi percontohan nasional.(rzt)
Comments (3)
https://riauhits.com/berita-kepala-bnpb-ri-wajah-meranti-sudah-berubah-penghasil-oksigen-nomor-satu-di-riau.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?
Reply