Kearifan Orang Melayu Terhadap Industri Migas di Riau

Logo
M Rawa Elmady (tengah) saat menjadi narasumber Hulu Migas Update yang ditaja SKK Migas Sumbagut bersama PWI Riau beberapa waktu lalu

Apa tanda Melayu Bertuah,
Membalas budi tiada lengah

Apa tanda Melayu terbilang
Membalas budi hatinya lapang

Apa tanda Melayu Beradat
Budi baik orang dirinya ingat

KOBARAN api dari obor kilang minyak di Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau senantiasa menerangi malam kala mentari telah kembali ke peraduan. Api kemerahan yang menari-nari melawan terpaan angin itu seolah menjadi pertanda akan semangat SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang tidak pernah padam mengelola industri migas di Riau.

Satu juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada 2030 mendatang menjadi impian yang harus dikejar. Sebuah rencana besar SKK Migas dan KKKS untuk mengembalikan kejayaan industri migas Bumi Pertiwi yang telah lama terpendam. Semangat kebangkitan industri migas Indonesia saat ini tengah bergeliat. Bumi Lancang Kuning, Riau juga akan kembali memainkan peranan penting selama proses kebangkitan tersebut.

Pada dasarnya, budaya asli Indonesia, termasuk budaya Melayu di dalamnya, terbukti memiliki falsafah yang pro- lingkungan hidup dan pro-investasi. Seperti  di daerah Melayu terkenal dengan falsafah Petuah Amanah dan Tunjuk Ajar-nya;
Adat hidup memegang adat,
Tahu menjaga laut dan selat,
Tahu menjaga tanah adat,
Tahu menjaga semut dan ulat,
Tahu menjaga togok dan belat’’.

Orang-orang di Bumi Melayu Riau,  memiliki dan memahami fungsi sosial-budaya yang baik dan tradisi turun temurun untuk mengelola lingkungan secara harmonis. Dalam sistem budaya orang orang Melayu dapat dilihat dengan jelas bagaimana nila-nilai budaya memberi pedoman dan arah agar lingkungan terpelihara dan masyarakat dapat hidup sejahtera.

Ketua Laskar Pemuda Melayu Riau di Duri, Haji Anasri mengungkapkan, selain di dalam falsafah masyarakat Melayu diajarkan bagaimana pro-lingkungan dan pro-investasi, juga diajarkan bagaimana berterima-kasih dengan budi baik orang yang telah susah payah berinvestasi di Bumi Melayu, sebagaimana yang dilakukan KKKS di Riau.

"Kehadiran SKK Migas dan KKKS di Riau tentu membawa berkah bagi tanah Melayu. Juga membawa berkah bagi seluruh masyarakat yang hidup di atas tanah Melayu. Terutama membawa berkah bagi masyarakat Melayu Riau di dalamnya. Ini harus bersama-sama kita syukuri kepada Allah SWT," sebut Haji Anasri, yang sehari-hari tinggal di Kota Duri, Kabupaten Bengkalis.

Dijelaskan Anasri, banyak KKKS yang berinvestasi di tanah Melayu yang kaya akan sumber daya minyak dan gas. Sebut saja PT Chevron Pacific Indonesia yang kini sudah berganti dengan Pertamina Hulu Rokan (PHR). Ada juga PT Energi Mega Persada (EMP), PT Bumi Siak Pusako (BSP), PT SPR Langgak dan bermacam perusahaan lainnya. Semuanya berinvestasi dengan nilai ratusan miliar Rupiah, bahkan sampai triliunan Rupiah.
"KKKS yang berinvestasi besar di industri migas di Riau pasti membawa manfaat bagi pemuda-pemudi di negeri ini, termasuk masyarakat Riau secara keseluruhan. Nah budi baik KKKS dan SKK Migas itu yang harus kita balas, sebagaimana diajarkan dalam petuah amanah dan tunjuk ajar Melayu," ungkap Anasri.

Bagaimana membalasnya? Sudah banyak petuah amanah yang diajarkan para leluhur kepada anak-kemenakan. Misalnya dengan bersama-sama menjaga operasional KKKS di Riau agar usahanya aman, nyaman, sukses dan berhasil. Itu adalah tanda kearifan lokal dan cara membalas terbaik oleh masyarakat Melayu terhadap KKKS dan SKK Migas. Sebagaimana diajarkan dalam Tunjuk Ajar Melayu;
Hidup harus rukun dan damai
Hidup serumah beramah tamah
Hidup sedusun tuntun menuntun
Hidup sebanjar ajar mengajar
Hidup sekampong tolong menolong
Hidup sedesa bertimbang rasa
Hidup sesuku bantu membantu
Hidup sekaum sesama maklum
Hidup sebangsa rasa merasa
Hidup senegeri beri memberi

"Nah, khusus tunjuk ajar tentang hidup sebangsa rasa merasa. Hidup senegeri beri memberi. Kelihatannya juga sudah dijalankan dan ditunaikan SKK Migas Sumbagut dan PHR yang mengelola Blok Rokan. Buktinya mereka mendengar masukan aspirasi Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) dan memberikan kesempatan bagi Badan Usaha Milik Adat (BUMA) LAMR untuk ikut mengelola Blok Rokan," kata Anasri.

Fakta itu, kata Anasri menambahkan, menunjukkan bukan hanya masyarakat Riau sebagai "tuan rumah" yang mengerti dan memahami kearifan lokal. Tetapi juga sebaliknya SKK Migas Sumbagut dan KKKS yang dapat dikatakan sebagai "pendatang", juga mengerti dan memahami kearifan lokal Petuah Amanah dan Tunjuk Ajar Melayu.

Akademisi di Riau, M Rawa El Amady saat tampil dalam Webinar Hulu Migas Update yang ditaja SKK Migas Sumbagut bersama PWI Riau 22 Oktober 2021 lalu menjelaskan, masyarakat Riau asli sudah sejak lama memiliki kearifan lokal. Bukan hanya sekedar Petuah Amanah atau pun Tunjuk Ajar, masyarakat Riau juga memiliki kearifan lokal dalam bentuk Tata Krama atau Tata Nilai serta Pantang Larang.

"Tata Nilai itu berkaitan dengan hubungan sesama manusia, hubungan dengan alam, hubungan dengan tamu atau pendatang dan sebagainya. Sedangkan Pantang Larang adalah tindakan atau perbuatan yang tidak boleh dikerjakan atau dilakukan di Tanah Melayu Riau," jelas Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau tersebut.

Meskipun masyarakat Melayu Riau memiliki karakteristik budaya yang berbeda-beda, misalnya antara Melayu Pesisir, Melayu Daratan, juga berbeda pula dengan suku-suku asli seperti Suku Sakai, Suku Akit, Suku Bonai, Suku Talang Mamak dan lain sebagainya, tetapi yang namanya tata krama dan tata nilai banyak yang sama. Misalnya penghormatan terhadap tamu atau pendatang di Tanah Melayu Riau.

Itu berarti terhadap SKK Migas Sumbagut dan KKKS yang mengelola ladang-ladang minyak di Riau akan selalu ada penghormatan masyarakat Melayu Riau dan bahkan didukung, bahkan dijaga industrinya bersama-sama, sejauh pantang larang tidak dilanggar. Misalnya, SKK Migas dan KKKS tidak mengganggu tanah ulayat, tanah tinggi, rimba larangan, kepungan sialang dan sebagainya.

Rawa El Amady juga mengingatkan, semua tradisi budaya dan tata nilai masyarakat Melayu Riau sangat identik dengan ajaran Islam. Tata krama atau pun tata nilai masyarakat, sebagian besar berpedoman pada ajaran agama Islam.

"Sebab itulah kalau KKKS yang ingin beroperasi di Riau, mereka harus menyesuaikan dan berpedoman dengan aturan agama Islam. Misalnya dalam soal sapa menyapa, berpakaian, hubungan muda-mudi dan sebagainya, itu formatnya (seperti) ajaran Islam," sebut Rawa.

Dengan memahami kearifan lokal dan ajaran Islam yang dianut masyarakat Melayu Riau, kata M Rawa, maka KKKS dalam mengelola Industri migas akan  berjalan lebih mudah dan masyarakat tempatan juga akan mendukung sehingga hubungan KKKS dan masyarakat akan saling membawa manfaat.

Sementara itu, akademisi dan pengamat sosial Yudie Apriyanto menyebutkan, kearifan lokal adalah berbagai nilai yang diciptakan, dikembangkan dan dipertahankan oleh masyarakat yang menjadi pedoman hidup mereka. Pedoman ini bisa tergolong dalam jenis kaidah sosial, baik secara tertulis ataupun tidak tertulis. Akan tetapi yang pasti setiap masyarakat akan mencoba mentaati kearifan lokal tersebut.

Masyarakat Melayu memberi pengajaran kearifan kepada anak cucu agar senantiasa menjaga dan memelihara alam lingkungan serta menghormati masyarakat pendatang di Riau. Ini terbukti dalam kumpulan bidal, gurindam,  pantun, syair dan sebagainya.

Dukung Produksi PHR
Dilansir dari situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 15 Oktober 2021, produksi rata-rata Blok Rokan tahun 2021 sampai dengan Juli 2021 adalah sebesar 160,5 ribu barel minyak per hari untuk minyak bumi atau sekitar 24 persen dari produksi nasional dan 41 MMSCFD untuk gas bumi.

Presiden Joko Widodo pun pada 12 Agustus 2021 lalu pernah menyatakan agar alih kelola Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia ke PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bisa menggenjot produksi minyak nasional lebih besar lagi.

Selanjutnya, menurut Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Julius Wiratno menyebutkan dengan jumlah kegiatan pengeboran dan ketersediaan alat yang lebih masif, maka produksi di Blok Rokan ditargetkan bisa lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Sampai Desember 2021 nanti dengan rig sekitar 17-18 yang mengebor, ditargetkan produksi bisa sekitar 175.000-180.000 barel per hari.

Berdasarkan dan data target yang sudah diungkap pemerintah terhadap Blok Rokan, Haji Anasri mengajak anak-kemenakan seluruh negeri dan masyarakat Riau umumnya untuk memberikan dukungan penuh dan sungguh-sungguh. Apalagi Blok Rokan memiliki sejarah panjang industri migas di Riau. Blok Rokan yang di dalamnya terdapat ladang minyak Minas ditargetkan berproduksi sampai 180.000 barel per hari.

"Ladang migas di Minas adalah salah satu lapangan minyak tertua di Bumi Melayu. Minas pernah menyandang sebagai tambang minyak raksasa di Asia Tenggara. Bagian dari Blok Rokan ini pertama kali ditemukan oleh geolog asal Amerika, Walter Nygren pada 1939. Lapangan Minas ini menghasilkan produk minyak terbaik yang pernah ada. Mari kita bersama-sama mendukung targer 180.000 barel minyak per hari," ungkap Anasri.

Cara mendukungnya, kata Anasri tetap berpedoman dan bepegang teguh pada Petuah Amanah dan Tunjuk Ajar Melayu;
Adat hidup sama sekampung
Sakit senang sama ditampung
Laba rugi sama dihitung
Beban dan hutang sama ditanggung
Dalam sempit sama berlindung
Petuah amanah sama dijungjung
Sama ke Teluk sama ke Tanjung
Sama seperiuk sama selusung

"Itu maknanya, antara masyarakat Riau dan KKKS serta SKK Migas Sumbagut harus saling dukung mendukung karena kita saat ini memang hidup sudah sekampung," jelas Anasri.

Dikatakan Anasri, kalau dengan dukungan masyarakat produksi migas di Blok Rokan meningkat, maka pendapatan Riau melalui Dana Bagi Hasil (DBH) juga semakin meningkat. "Alangkah gembiranya kita kalau DBH meningkat untuk Pemprov Riau dan Pemkab se-Riau, maka pasti akan meningkat pula pembangunan daerah. Sekaligus juga semakin meningkat dan banyak dibangun infrastruktur, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan dan sebagainya di negeri kita," kata Anasri.

Sebagai tambahan informasi, berdasarkan data Kementerian Keuangan RI, DBH minyak bumi 2020 lalu yang ditransfer pemerintah pusat ke daerah totalnya senilai Rp 10,03 triliun. Dengan rincian, Rp 2,72 triliun ditransfer ke 21 Pemerintah Provinsi dan Rp 7,32 triliun ditransfer ke 347 Pemda kabupaten/kota.

Sebanyak 5 Pemprov di Sumatera masuk dalam daftar penerima DBH minyak bumi terbesar pada 2020, sementara 3 provinsi lainnya ada di Jawa, 1 di Papua dan 1 di Kalimantan.

Provinsi Riau tercatat sebagai  penerima dana bagi hasil (DBH) minyak bumi terbesar, yakni Rp 1,08 triliun atau 37,71 persen dari total DBH ke pemprov pada 2020. Nilai tersebut tidak termasuk DBH yang diterima oleh pemerintah kota/kabupaten di Provinsi Riau.

"Melihat data dari Kementerian Keuangan tersebut, jelas nyata Riau paling besar mendapatkan DBH. Sekali lagi sebagaimana diarahkan Ketua LAMR Datuk Seri Syahril Abubakar kepada kita semua, mari bersama-sama kita mendukung SKK Migas Sumbagut dan KKKS yang beroperasi di Riau. Apalagi selama ini, SKK Migas dan KKKS nyata memberi manfaat dan berkah bagi masyarakat Riau," tutup alumnus MAN 2 Pekanbaru tersebut. (syaifulazim/mikcy)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)