Disbunnakeswan Kampar Minta Warga Waspadai Hewan Kurban Berpenyakit

Logo
Ilustrasi.

(RIAUHITS.COM) BANGKINANG - Pada hewan kurban di wilayah Kabupaten Kampar setiap tahunnya rentan ditemui penyakit cacing hati. Demi mengantisipasi hal yang tak diinginkan, Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnakeswan) Kabupaten Kampar mengingatkan masyarakat agar mewaspadai hewan kurban yang berpenyakit. Menurut Kepala Disbunnakeswan melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Kesehatan Masyarakat Veteriner Deyus Herman, hasil pengawasan tahun-tahun sebelumnya, pihaknya selalu mendapatkan laporan adanya cacing hati pada hewan kurban.

"Ini hampir setiap tahun terjadi, terutama kerbau yang didatangkan dari Sumbar. Kebanyakan kerbau di sana pemeliharaannya di rawa-rawa. Itu yang membuat kerbau di sana sering terkena penyakit cacing hati," katanya, Jumat (2/7/2019).

Adapun pada tahun lalu, penyakit cacing hati ditemukan pada beberapa ekor hewan kurban, di antaranya di Kecamatan Bangkinang, Kampar, Tambang, dan Siak Hulu.

"Tanda-tanda hewan yang kena cacing hati ini hatinya hancur dan warnanya merah kehitaman," bebernya.

Karena itu, ia pun menyarankan, apabila masyarakat menemukan ciri-ciri ini agar tidak membagikan atau memakan daging hewan kurban itu. Di samping penyakit cacing hati, salah satu penyakit lainnya yang harus diwaspadai pada hewan kurban adalah antraks. Akan tetapi, dari pengawasan tahun-tahun sebelumnya, Disbunnakeswan Kampar belum mendapati dan menerima laporan adanya penyakit antraks pada hewan kurban.

"Ini berbahaya, dipegang saja bisa kenak kami," jelasnya.

Ia menerangkan, penyakit lainnya, yakni ngorok dan tingkat kematian pada hewan kurban cukup tinggi akibat penyakit tersebut.

"Tapi yang kena ngorok ini dagingnya masih bisa dikonsumsi," paparnya.

Adapun dalam melakukan pengawasan, sambungnya, Pemerintah Kabupaten Kampar sejauh ini sudah membentuk Tim Pengawasan dan Pemeriksaan Hewan Kurban Tahun 2019. Tim ini di SK kan oleh Bupati Kampar.

"Tim ini terdiri 21 orang. Tim turun pada H-2, pada hari H, dan H plus 1," ungkapnya.

Diketahui, pemeriksaan hewan kurban yang dilakukan terdiri dari tiga, yakni sebelum pemotongan atau ante mortem, saat pemotongan atau mortem, dan setelah pemotongan atau post mortem. Kata dia lagi, satu tim terdiri dari empat.

"Kalau sekarang di masjid atau di lapangan belum ada hewan kurban. Sekarang kami pantau di pedagang-pedagang," ucapnya.

Tim itu pun terus bergerak dari satu desa ke desa atau kelurahan lainnya. Tim mengawasi hewan kurban yang dilihat secara klinis.

"Sapi atau kerbau dan hewan kurban yang didatangkan dari luar, apakah sudah ada surat keterangan kesehatan hewan (SKKH)? Itu yang kami periksa," bebernya.

Tim pun akan memeriksa surat asal tempar hewan itu didatangkan.

"Kalau kedapatan tak ada surat itu maka tindakan mungkin secara klinis kita cek kesehatan. Kalau tak layak secara klinis maka kami sarankan tidak dipotong," jelasnya.

Di sisi lain, Disbunnakeswan Kampar menyarankan kepada masyarakat agar mendatangkan hewan kurban tidak terlalu berdekatan dengan jadwal penyembelihan hewan kurban.

"Saran kami, datangkan lebih jauh hari, minimal H-2 supaya bisa dicek," tuturnya.

Diakuinya, ada kendala yang selalu dihadapi dalam pengawasan, contohnya adanya hewan yang tak layak disembelih secara syariat dan sisi kesehatan, sedangkan panitia dan masyarakat tidak menerima rekomendasi dari Disbunnakeswan.

"Makanya kami perlu dari MUI, kalau tak layak secara syariat maka akan disampaikan tidak layak dikurbankan," bebernya.

Disbunnakeswan Kampar pun sudah melakukan kerja sama dengan Majelis Utama Indonesia (MUI) Kabupaten Kampar. Kerja sama itu adalah yang pertama dilakukan Pemkab dan Pemko di Provinsi Riau. Bentuk kerja sama itu, antara lain, membuat buku Pedoman Penyelembelihan Hewan Kurban.

"Kami sebagai narasumber. Hewan kurban harus memenuhi secara syariat Islam dan begitu juga tata cara penyembelihan," ucapnya.

Buku itu didistribusikan ke masjid-masjid. Di samping itu, Disnakkeswan membuat leaflet tentang Pedoman Penyembelihan Hewan Qurban yang Halal dan Higienis.

"Prinsipnya ASUH, aman sehat utuh dan halal," tuntasnya.(rzt)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-disbunnakeswan-kampar-minta-warga-waspadai-hewan-kurban-berpenyakit.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)