Pertamina Kilang Dumai Luncurkan SAF Berbahan Minyak Jelantah 5 Persen

Logo

RIAUHITS.COM, DUMAI, 17 Oktober 2026 — PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai (Kilang Dumai) memperkuat inovasi energi berkelanjutan melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar penerbangan yang diproduksi dengan memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai bahan baku campuran. Produk ini dikembangkan dengan komposisi UCO sebesar 5 persen melalui teknologi co-processing di unit Hydrocracker Unibon (HCU) #212.

Peluncuran produk SAF tersebut dilakukan oleh Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, saat kunjungan kerja atau Management Walkthrough (MWT) ke Kilang Dumai pada Kamis (15/10/2026).

Keberhasilan ini menandai pengembangan lebih lanjut kapabilitas Kilang Dumai dalam menghasilkan produk bahan bakar penerbangan yang mendukung agenda transisi energi. Pengolahan minyak jelantah sebagai bahan baku terbarukan juga membuka peluang pemanfaatan limbah minyak goreng menjadi produk bernilai tambah bagi industri energi.

Pengembangan SAF dengan kandungan UCO sebesar 5 persen tersebut diawali dengan keberhasilan plant trial pada 25 Juli 2026. Melalui penerapan teknologi co-processing di unit HCU #212, Kilang Dumai mengolah bahan baku berbasis minyak jelantah dalam proses produksi bahan bakar penerbangan.

Kilang Dumai menyebut pencapaian ini sebagai terobosan dalam pengembangan SAF di Sumatera. Perusahaan juga menyatakan bahwa teknologi yang digunakan menjadikan Kilang Dumai sebagai kilang pertama di ASEAN yang berhasil mengolah UCO melalui unit hydrocracking.

Inovasi Teknologi dan Penguatan Pasar SAF

Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengapresiasi kerja keras para Perwira Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai dalam mengembangkan SAF dengan campuran UCO sebesar 5 persen.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan sumber daya manusia dan fasilitas pengolahan Pertamina dalam menjawab tantangan industri energi yang semakin mengarah pada keberlanjutan. Namun, pengembangan produk perlu diikuti dengan strategi pengadaan bahan baku yang berkelanjutan agar produksi dapat terus dikembangkan.

“Keberhasilan Kilang Dumai dalam mengembangkan SAF dengan UCO 5 persen ini membuktikan bahwa Perwira Pertamina mampu menjawab tantangan dan kebutuhan dunia industri hari ini. Kini, kita fokus dalam strategi bagaimana mendapatkan feedstock yang sustain dan tentunya tersertifikasi, karena ini bisa menjadi revenue industri yang baru di Indonesia,” ujar Taufik.

Ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan SAF. Selain menjaga kesinambungan pasokan, bahan baku juga perlu memenuhi persyaratan ketertelusuran dan sertifikasi agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan pasar serta standar keberlanjutan internasional.

Untuk memastikan mutu produk, SAF Kilang Dumai telah melalui serangkaian pengujian laboratorium. Produk tersebut juga telah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) EU dan ISCC CORSIA, yang berkaitan dengan pemenuhan persyaratan keberlanjutan pada rantai pasok bahan baku dan produksi.

Sertifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung penerimaan produk di pasar internasional, terutama di tengah meningkatnya perhatian industri penerbangan terhadap pengurangan emisi karbon dan penerapan prinsip keberlanjutan.

Dukung Target Net Zero Emission 2060

Pengembangan SAF di Kilang Dumai merupakan bagian dari upaya Pertamina mendukung transisi energi dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060. Inisiatif ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan serta memperkuat pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari persiapan Pertamina Patra Niaga dalam mendukung rencana penerapan mandatori SAF sebesar 1 persen yang ditargetkan mulai berlaku pada 2027, sebagaimana disebutkan dalam rencana perusahaan.

Pengembangan SAF dinilai strategis bagi industri penerbangan karena membuka peluang pengurangan emisi sepanjang siklus hidup bahan bakar, bergantung pada sumber bahan baku, proses produksi, serta metode perhitungan emisi yang digunakan.

Dalam pengembangannya, SAF berbasis UCO dari Kilang Dumai disebut memiliki potensi reduksi emisi karbon hingga 81 persen. Angka tersebut perlu dipahami sebagai potensi pengurangan emisi yang bergantung pada pembanding dan batasan perhitungan siklus hidup yang digunakan, bukan sebagai pengurangan emisi langsung dari setiap penerbangan dalam persentase yang sama.

Dari sisi kapasitas, Kilang Dumai mencatat kapasitas produksi SAF sebesar 11,3 ribu barel per hari atau 11,3 MBSD. Angka tersebut melampaui kapasitas yang disebutkan untuk Kilang Cilacap, yakni 9 MBSD. Dengan demikian, total kapasitas produksi SAF dari kedua kilang Pertamina mencapai 20,3 MBSD.

Kapasitas tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam memperkuat kesiapan infrastruktur pengolahan untuk mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia. Optimalisasi kapasitas tetap perlu didukung oleh kepastian pasokan bahan baku, keandalan operasi, serta kebutuhan dan penerimaan pasar.

Keandalan Operasi dan Standar Keberlanjutan

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Iwan Kurniawan, menjelaskan bahwa pengembangan SAF merupakan hasil dari proses panjang yang dipersiapkan secara menyeluruh. Dalam proses tersebut, perusahaan mengedepankan keselamatan, keandalan operasi, tata kelola perusahaan yang baik, serta pemenuhan standar keberlanjutan internasional.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Kilang Dumai adaptif terhadap tantangan transformasi global dan prinsip keberlanjutan. Persiapan yang dilakukan secara matang dan komprehensif, termasuk sertifikasi ISCC yang menjadi bukti bahwa SAF yang dihasilkan dari Kilang Dumai sudah memenuhi persyaratan keberlanjutan dan dapat diterima serta siap diperdagangkan di pasar global,” jelas Iwan.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan produk ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis kilang, tetapi juga oleh kesiapan perusahaan dalam memenuhi persyaratan mutu dan keberlanjutan yang dibutuhkan pasar. Karena itu, penguatan proses produksi dan pemenuhan standar internasional menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis SAF ke depan.

Perluas Portofolio Produk Energi

Kehadiran SAF berbasis UCO dengan komposisi campuran 5 persen semakin melengkapi portofolio produk energi yang dihasilkan Kilang Dumai. Selama ini, kilang tersebut memproduksi berbagai produk, antara lain Solar, Avtur, Pertalite, Pertadex, Marine Fuel Oil (MFO)-LS, Low Sulfur Fuel Oil (LSFO), LPG, SF-05, Green Coke, serta produk turunan lainnya.

Pengembangan SAF menjadi langkah diversifikasi produk yang memperluas peran Kilang Dumai dalam mendukung kebutuhan energi sekaligus merespons perubahan arah industri menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, keberhasilan pengembangan SAF diharapkan dapat menjadi fondasi bagi penguatan rantai pasok bahan baku terbarukan, peningkatan kapabilitas teknologi pengolahan, serta perluasan pemanfaatan bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.

Melalui inovasi tersebut, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keandalan operasional, mengembangkan produk bernilai tambah, dan berkontribusi dalam mendukung transformasi energi serta industri penerbangan nasional.



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-pertamina-kilang-dumai-luncurkan-saf-berbahan-minyak-jelantah-5-persen.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)