Budayawan Kampar Kecewa Mahmud Marzuki Gagal Dianugerahi Pahlawan Nasional Tahun Ini

Logo
Mahmud Marzuki.

(RIAUHITS.COM) BANGKINANG - Gelar Pahlawan Nasional tahun ini gagal diraih Mahmud Marzuki. Presiden RI telah mengumumkan enam tokoh dan nama Mahmud tak termasuk di dalamnya. Menurut Abdul Latief Hasyim, Budayawan Kampar, dirinya sudah mengetahui informasi itu.

Latief sendiri menjadi salah satu penyusun naskah rekam jejak Mahmud yang diusulkan ke Kementerian Sosial. Dia pun membuat lukisan yang menggambarkan penyiksaan dialami Mahmud dan menyiapkan bukti-bukti sejarah perjuangan Mahmud melawan penjajah, pengibaran Merah Putih pertama sekali di Bangkinang pascaproklamasi, dan bentuk perjuangannya.

"Iya. Jadi, tahun ini gagal lagi. Gimana lagi?" tuturnya.

Dia menyebut, ada faktor tertentu yang menyebabkan tidak terpilihnya Mahmud sebagai Pahlawan Nasional pada tahun ini. Datuk Bagindo Persukuan Melayu Bendang, gelarnya, itu enggan menyebutkan faktor itu secara gamblang. Ia khawatir bakal menimbulkan kontroversi dan polemik.

"Intinya perjuangan kurang maksimal," paparnya.

Pemerintah, imbuhnya, kurang maksimal mengkawal usulan saat digodok oleh Kementerian Sosial. Karena itu, dia mengaku kecewa. Terlebih, Mahmud sudah diusulkan bertahun-tahun. Gagalnya Mahmud menghambat tokoh Datuk Tabano untuk diusulkan menjadi Pahlawan Nasional dari Kampar berikutnya.

"Mungkin tahun depan kami usulkan aja keduanya sekalian. Mahmud dan Datuk Tabano," sambung pensiunan guru yang kini berkarirr sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi itu.

Referensi tentang Datuk Tabano, kata dia lagi, sudah lengkap dan siap diajukan. Bahkan, beberapa tahun lalu, Datuk Tabano sudah pernah diusulkan.  Mahmud dikenal dengan sosok pengibar bendera Merah Putih pertama di Bangkinang pascaproklamasi, 9 September 1945. Dia telah diusulkan menjadi Pahlawan Nasional selama bertahun-tahun.

Keterkenalan pria kelahiran 1911 itu bahkan sampai ke Sumatera Barat. Menurut referensi yang diajukan ke Kementerian Sosial, perjuangannya membela tanah air dari penjajahan Belanda dimulai pada 1936. Kala itu, dia belajar di Aligar Muslim University India melalui Perak-Malaysia jajahan Inggris sampai 1938. Pada 1939 sampai 1942, dia menjalankan misi sebagai guru dan mengajarkan Agama Islam.

Bersamaan memupuk jiwa nasionalisme dan menyerukan semangat persatuan pada setiap dakwah hingga mendirikan Kepanduan Hizbul Wathan di Air Tiris. Memasuki masa penjajahan Jepang, Mahmud terus berjuang melalui dakwah. Sampai akhirnya ke zaman kemerdekaan Indonesia yang pertama sekali sampai kabar itu di Bangkinang melalui Telegram pada 5 September 1945.

Usai mendapat kabar itu, Mahmud memimpin Rapat Muhammadiyah di Muara Jalai untuk membahasi Proklamasi. Rapat itu menyepakati pengibaran bendera Merah Putih pada 9 September. Dia bertugas sebagai penggerek bendera dalam upacara pengibaran di Lapangan Merdeka, bekas Kantor Controleur Bangkinang. Pada Oktober 1945, terjadi tragedi yang dikenal dengan Durian Danau Bingkuang.

Tujuh tentara Jepang dibunuh oleh Pemuda Keamanan Rakyat. Seminggu kemudian, sekitar 20 truk tentara Jepang dengan bersenjata lengkap menyerbu Bangkinang. Saat itu, Mahmud memimpin Rapat Komite Nasional Indonesia yang diketuainya. Tentara Jepang mengepung tempat diadakannya rapat. Mahmud ditangkap bersama peserta rapat lainnya dan diseret ke Lapangan Merdeka.

Di situ, Mahmud dan temannya disiksa selama 23 hari. Sampai akhirnya dia jatuh sakit. Pada 5 Agustus 1946, Mahmud wafat di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Desa Kumantan yang didirikannya.(rzt)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-budayawan-kampar-kecewa-mahmud-marzuki-gagal-dianugerahi-pahlawan-nasional-tahun-ini.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)