UPT Bapenda Bengkalis Masih Lengang hingga Hari Ketiga Masa Pemutihan Denda Pajak
- Kamis, 25 Oktober 2018
- 854 likes
TRC BPBD Pelalawan Tetap Siaga di Pangkalan Bunut meski Banjir Mulai Surut
- Kamis, 25 Oktober 2018
- 854 likes
BEKELABUT perasaan bila membedah soal taman nasional ini. Apa pasal? Banyak istilah yang hampir-hampir mirip, misalnya Kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Taman Buru, Kawasan Wisata Alam, Kawasan Pelestarian Alam. Semuanya bermuara pada pelestarian flora dan fauna, sebagai anugerah Sang Khalik kepada Indonesia. Bila ‘’melayari’’ taman nasional ini di dunia maya dan dunia nyata, negeri ini memiliki 55 taman nasional. Kawasannya membentang dari Aceh hingga Papua.
Alhamdulillah, tenyata Riau, memiliki tiga kawasan taman nasional. Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), dan Taman Nasional Zamrud (TNZ). Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau, punya perhatian khusus tentangnya, Ketua H Zulmansyah Sekedang, mengajak ratusan wartawan media cetak, televisi, dan online melakukan ekpedisi di tiga taman nasional ini. Wartawan dari berbagai daerah se-Riau itu, diajak masuk dan keluar hutan, arungi rawa dan sungai, naik bukit dan turuni lembah.
Banyak pertanyaan yang menggelayut. Misalnya, apakah taman nasional ini nyata? Jangan-jangan seperti kata petuah orang-orang tua, indah kabar daripada berita. Tak dinyana lagi, sebahagian besar kekhawatiran itu memang terjadi. Beberapa pihak yang ditemui langsung di lokasi, masih berkeluh-kesah. Hutan yang masih digarap cukong, ikan yang sudah mulai hilang, satwa yang masih banyak dijerat, sempadan yang masih belum tuntas, dana pengelolaan yang masih terbatas, hingga gajah yang sudah masuk-keluar kampung dan suka mengamuk pula.
GENTA menanyatakan langsung pada Plt Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Fifin Arfiana Jogasara soal hal ini.
Wanita paruh bawa ini, langsung buka rahasia soal kendala yang dihadapi. Pertama, ratio jumlah personil dengan luas kawasan tidak seimbang, sehingga pengawasan sangat terbatas. Kedua, aksesibilitas ke lokasi cukup sulit dan menantang. Ketiga, dalam pengembangan potensi kawasan memerlukan pendanaan yang cukup besar dan berkelanjutan. Keempat, ketergantungan masyarakat pada kawasan masih cukup tinggi. Kelima, mensinergikan program pengelolaan taman nasional dengan program pembangunan daerah, sehingga masih perlu optimalisasi dan dukungan pemda.
Negara memang hadir dalam pengelolaan ini. BBKSDA Riau ditunjuk untuk itu. Kini, ada 21 kawasan konservasi yang dikelolanya, baik berupa Kawasan Suaka Alam (KSA) maupun Kawasan Pelestarian Alam (KPA), dengan luas keseluruhan ± 440.539,59 hektar. Sfesifiknya, 9 Suaka Margasatwa, 2 Cagar Alam, 3 Taman Wisata Alam, 1 Taman Buru, 3 Taman Nasional dan 3 KSA/KPA. Ternyata memang bejibun kendala yang dihadapi.
TNTN, Gajah Dah Mulai Suka Mengamuk

Masuk hutan taman nasional ini, memang tak mudah. Lokasinya terletak di antara Sungai Tesso di bagian Barat dan Sungai Nilo di bagian Timur, di Resort Air Sawan dan Air Hitam, Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan. Dari aspal hitam jalan lintas timur Sumatera di langgam km 4, ditempuh dengan mobil sekitar 45 menit. Baru sampai ke gerbang masuk, renyai hujan mulai turun. Tanah yang masih lembab karena hujan sebelumnya, masih menggenangi parit-parit, membuat mobil yang ditumpangi tim ekpedisi, meleset ke kiri, dan berbelok ke kanan. Di tengah hutan itu, supir pun mewanti-wanti, akan ada goncangan. Dari pada banyak tanya, kami pun berdoa supaya lancar dan mencapai lokasi yang dituju siang 8 Agustus 2021 lalu. Lama juga perjalanan di medan berlumpur itu, hampir 40 menit.
Hati senang, tatkala melihat gajah-gajah yang meraung-raung seakan mengucapkan selamat datang. Ada yang selfie dan langsung update status, ada pula yang suka meraba belalai gajah, tapi ada pula yang diam-diam mengajak bebual serius Erwin Daulay, Koordinator Mahout (pawang gajah) TNTN. Saya pun mendekat juga, alamaak, tenyata ada yang cek stok mani gajah sebagai obat kuat, dan ingin tau soal birahi gajah.
Heru Sumantoro, Kepala Balai TNTN menyampaikan banyak hal seputar perkembangan taman nasional ini. SK Menteri Kehutanan tanggal 19 Juli 2004 mencatat 38.576 hektar lahan, dipeluas lagi menjadi 81.793 hektar pada 19 Okober 2009 dan langsung ditunjuk menjadi taman nasional. ‘’Yang bisa dikuasai sekarang hanya tinggal 18.000 hektar saja, selebihnya sudah menjadi perkebunan sawit, karet dan perkampungan,’’ jelasnya. Waduuh... Heru pun menjelaskan secara detail soal potensi, keunggulan, tantangan dan hambatan dalam mengelola taman nasional ini. Ada juga beberapa hal yang off the record, untuk sekedar wartawan tahu aja, katanya. Dia mengurai sejarah awal terbentuk, hutan-hutan yang mulai habis, perburuan liar, illegal logging, illegal mining, konflik manusia dengan satwa liar, hingga kebakaran hutan.
Kawasan Tesso Nilo adalah salah satu blok hutan dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Membentang di empat kabupaten yaitu Pelalawan, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, dan Kampar. Di lokasi ini, juga menjadi area tangkan air (catcment area) untuk Sungai Segati yang terletak di bagian Utara.
TNTN memiliki keanekaragaman hayati tinggi, ditemukan pohon 215 jenis dari 48 famili dan anak pohon 305 jenis dari 56 famili (LIPI, 2003). Juga menjadi habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dengan populasi sekitar 150 ekor, rasio jantan banding betina 1:2 (WWF Program Riau, 2015). Lalu juga banyak Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae). Dan yang tak kalah fenomenal adalah Lebah Madu yang tumbuh di pohon Sialang, 107 jenis burung, 23 macam mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia.
Balik ke soal gajah tadi. Kepada GENTA, Erwin Daulay bercerita banyak tentang kesehariannya mengurus Rahman, Indro, Ria, Lisa, Tesso, Imbo, Rimbani, Harmoni, dan Riyu. Kawanan gajah-gajah ini hidup berdampingan dan dengan 13 Mahout (pawang gajah, atau perawat gajah) di TNTN. Pria 50 tahun ini juga curhat image gajah yang selalu disudutkan bila terjadi konflik dengan manusia. ‘’Yang salah itu kita, tempat mereka memang di hutan, nah hutan itu yang sudah mulai berkurang. Gajah ini kan sama seperti kita, perlu makan. Gajah punya sifat menjelajah, dia harus berjalan setiap harinya. Kalau hutan sudah habis, ya pilihannya masuk kebun. Apalagi gajah-gajah ini setia dengan rute permanen yang sudah ditempuh berpuluh-puluh tahun lamanya yang kini beralih fungsi,’’ sebutnya.
Erwin (selain polisi kehutanan, PPNS, dan stakeholder) memang sosok yang paling diperlukan di taman nasional ini. Hampir 24 jam per hari, pria asal Gunung Tua Sumatera Utara ini, memimpin tiga belas pawang. Tunak pada profesi ini, dia pun sudah mengasuh lebih dari 100 ekor gajah, mulai dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas hingga TNTN. ‘’Saya kalau ndak lihat gajah dalam sehari, terasa ada yang kurang. Mereka sudah jadi keluarga kedua buat saya,’’ kata ayah tiga anak ini.
Pekerjaan sebagai pawang gajah bukan tanpa resiko, beberapa contoh yang ditemukan adalah pawang gajah sering kali menjadi sasaran amuk gajah. ‘’Kadang mahout ini kena tendang, kena dorong. Apalagi kalau gajah sedang sensitif, birahi dan marah. Sudah banyak bukti soal ini. Bahkan, pernah juga mahout yang meninggal akibat amukan,’’ katanya sambil mata menerawang jauh.
Cerita sudah panjang, soal mani gajah belum juga terjawab. Mulai menarik, ketika Erwin mulai menyebut cara gajah-gajah itu berkembang biak. ‘’Saya sudah 31 tahun bersama gajah-gajah ini, tidak melihat hal itu. Ada yang sebut mani gajah bisa untuk obat kuat, bisa jadi jimat, pelaris, hingga tangkal penyakit. Itu hanya mitos saja,’’ ucapnya. ‘’Kami tahu kapan gajah itu birahi, dia mau kawin.
Ada ciri-cirinya, antara lain keluar cairan putih antara mata dan telinga. Nah, dia pasti akan sensitif, agresif. Dia kawin layaknya hewan lainnya, dia punya mani atau sperma seperti manusia, jadi ndak ada mani gajah yang beku, kalau dia jatuh ke tanah atau semak, ya habis begitu saja,’’ ungkapnya bersemangat seperti layaknya dokter spesialis hewan. Anggota tim ekpedisi PWI Riau pun manggut-manggut.
Pendek cerita, kondisi lingkungan dan gajah-gajah TNTN ini memang perlu mendapatkan perhatian yang serius. Konflik gajah dengan manusia, diduga masih akan menjadi pertelagahan panjang, sebab tempat mereka mencari makan, sudah beralih bentuk. Gerakan deforesisasi, akan sangat berpengaruh buruk pada lokasi ini, jika tidak ditangani sungguh-sungguh. Hutan yang dulu penuh dengan keragaman hayati, kini cenderung jadi heterogen dengan pohon akasia dan sawit, dan ini menjadi ancaman serius kawasan ini.
TNBT, Pohon Mersawa 200 Tahun

Menembus jalan terjal menuju Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) bukanlah pekerjaan biasa. Dari gerbang masuk Pematang Reba, Indragiri Hulu, hingga menuju Camp Granit, terasa seperti off road daripada jalan-jalan biasa. Kawasan bukitnya di tengah-tengah hamparan dataran rendah bagian Timur Sumatera dan terletak di perbatasan Provinsi Riau dan Jambi. Di Riau, kawasannya melingkupi Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir. Sedangkan di Provinsi Jambi, kawasannya di Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Kendaraan biasa tak bisa melewatinya. Rombongan PWI Riau harus berganti mobil double gardan. Kendaraan ini, memang sudah didesain khusus oleh BBKSDA untuk menuju kawasan utama TNBT. Hampir 1 jam perjalanan Jumat, 6 Agustus 2021 itu ditembus dengan mendaki dan menurun, tapi belum juga sampai ke lokasi yang dituju. Rombongan sempat dihentikan di Bukit Tengkorak sekitar 20 menit, pasalnya di lokasi inilah batas gawai bisa digunakan. Wartawan yang biasa tak lepas dari signal, kini harus berada di luar jaringan. Ada yang menulis ‘’pesan terakhir’’ untuk keluarga, ada pula yang buat status ‘’Lagi di hutan, No signal’’. Sudah puas rasanya dengan perjalanan mobil bak terbuka, akhirnya tiba di camp, tempat memasang tenda dan menginap.
Kawasan TNBT sesuai SK Menteri Kehutanan tahun 1995 seluas 127.698 hektar. Selanjutnya dilakukan penataan tapal batas, tahun 2002 luasnya ditambah jadi 144.223 hektar. Dikarenakan wilayahnya berada di perbatasan dua provinsi, TNBT terbelah dalam dua wilayah yaitu 111.233 hektar berada di Provinsi Riau dan 33.000 hektar berada di Provinsi Jambi.
Syahdan, menurut legenda, nama Bukit Tigapuluh diambil dari salah satu bukit yang ada di perbatasan Riau-Jambi. Untuk capai puncak bukit itu, harus menempuh lima belas bukit dari Riau dan lima belas bukit dari Jambi. Memang secara fisik, jumlah bukitnya lebih dari tiga puluh. Dilihat di peta Sumatera, Bukit Tigapuluh ini berada dalam kawasan perbukitan curam di tengah hamparan dataran rendah sebelah timur Sumatera yang terpisah dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Namun, ada juga yang mengatakan Bukit Tigapuluh berasal dari Bukit Tiga Jurai. Karena letaknya di apit tiga sungai besar yaitu Sungai Batang Gansal, Sungai Batang Cenaku, dan Sungai Batanghari di Provinsi Jambi.
Kawasan ini terdiri dari hutan tropis yang terdapat aneka ragam jenis tumbuhan atau satwa endemik, seperti 59 jenis mamalia, 6 jenis primata, 151 jenis burung, 18 jenis kelelawar, dan berbagai jenis kupu-kupu. World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, menyebut TNBT sebagai kawasan yang memiliki keragaman flora dan fauna yang paling tinggi di Pulau Sumatera. Keragaman flora TNBT ditunjukkan dengan sekitar 660 spesies tumbuh-tumbuhan, 246 di antaranya adalah tumbuhan obat-obatan yang sering dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Ada pula 550 spesies merupakan spesies langka, di antaranya Cendawan Muka Rimau (rafflessia hasselti), Rotan Jernang Besar (daemonorops draco), Pulai (alstonia scholaris), Jelutung (dyera cosculata), dan lain-lain.
Sedangkan keragaman faunanya, TNBT memiliki kurang lebih 59 spesies mamalia, 8 di antaranya adalah jenis primata. Ada juga Harimau Sumatra (panthera tigris sumatrae), Gajah Sumatra (elephas maximus sumatranus), Macan Dahan (neofelix nebulasa), Rusa Sambar (cervus unicolor), Kijang (muntiacus muntjak) serta Tapir Asia (tapirus indicus). Banyak juga Siamang (hylobates syndactylus), Lutung Kelabu (trachypithecus cristatus), dan Kera Jambul (presbytis melalophos).
Selain itu, di kawasan TNBT ini juga terdapat Pohon Nibung (oncosperma tigilarium), sejenis palem liar, mirip pohon pinang, yang secara spesifik tergolong dari suku palmae. Bagi masyarakat Riau, pohon nibung memiliki makna tersendiri, yaitu sebagai simbol semangat persatuan dan persaudaraan masyarakat Riau. Oleh Pemerintah Provinsi Riau, pohon ini kemudian dijadikan sebagai maskot daerah.
Tidak hanya itu saja, kawasan ini habitat yang cocok bagi berbagai jenis burung. Yang masih sering dijumpai adalah burung Rangkong Perut (anthracoceros convexus), Burung Elang Wallace (spizaetus nanus) dan Burung Raja Udang (Alcedo euryzona). Di antara burung-burung tersebut, yang paling unik dan susah dijumpai di tempat-tempat lain adalah Burung Serindit (loriculus galgulus). Sekali lagi, bagi masyarakat Riau, burung serindit adalah lambang dari sifat positif, seperti kebijaksanaan, keberanian, kesetiaan, kerendahan hati, dan kearifan. Burung ini juga ditetapkan sebagai maskot Provinsi Riau, selain pohon nibung tadi.
TNBT juga menjadi tempat konservasi flora dan fauna yang terancam punah, tempat tinggal Suku Talang Mamak dan Suku Orang Rimba (suku kubu), dua suku yang dianggap sebagai keturunan ras Proto-Melayu. Suku Talang Mamak merupakan suku yang berdiam di kawasan Bukit Tigapuluh dan percaya bahwa bukit dan tumbuhan yang ada di TNBT ini mempunyai kekuatan magis dalam kehidupan mereka. Secara tidak langsung mereka ikut berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melindungi bukit dan tumbuhan di TNBT. Sementara Suku Orang Rimba hidup nomaden dan sekitar 3.000 anggotanya hidup di wilayah Jambi.
Tim Ekspedisi PWI Riau mencari sesuatu yang berbeda. Letih menjalani naik dan turun bukit selama 45 menit langsung terbayar. Akhirnya sampai di Bukit Lancang. Langsung melihat lokasi yang menjadi habitat Pohon Mersawa. Ratusan pohon ini bersanding ‘’mesra’’ dengan pohon kulim, tembusu dan meranti. Memang di lokasi ini yang paling banyak tumbuh subur adalah pohon mersawa.
Andi Munandar, petugas TNBT menyebut pohon mersawa (anisoptera marginata korth) ini, memang sangat cocok tumbuh di kawasan ini. Sebab ia-nya bisa bertahan hidup dengan ketinggian tertentu. Pohonnya menjulang ke langit hingga 40 meter, terpelihara secara baik oleh pengelola taman nasional, terutama dari pembalakan liar. Meski jenis ini, tidak yang paling besar di dunia, namun pohon mersawa ini, menjadi contoh bahwa alam bisa tumbuh subur jika dijaga. Kini pohon yang berdiamater 13 lingkar tangan orang dewasa ini, menjadi saksi di TNBT. Diyakini, pohon ini berumur 200 tahun lebih.
Nah, ternyata ndak sulit mencari bukti bahwa Riau, siap menjadi alternatif menjadi penopang paru-paru dunia. Memang memeliharanya jauh lebih sulit dilakukan, apalagi untuk ratusan pohon yang sebesar ini. Akan menjadi pekerjaan sulit, sebelum cukong ilegal loging mencari cara untuk merampasnya.
Selain bahagia dengan penampakan pohon mersawa di Bukit Lancang ini, tim ekpedisi mendapatkan kabar baik lain. Setelah 24 jam tidak mendapatkan sambungan telepon, ternyata di bukit ini, karena tingginya, signal gawai bisa digunakan, walaupun hanya terbatas. Ada yang memberi kabar, telepon dan update status ke media sosial dengan tagar #Kami di Pohon Mersawa TNBT.
TNZ, ‘’Emas Hitam’’ Harta Karun di Bawah Danau

Berbeda dengan dua tempat ekpedisi sebelumnya, perjalanan 27 November 2021 ini harus ekstra hati-hati. Taman Nasional Zamrud (TNZ), berada di suatu tempat terpencil. Menuju kawasannya sekitar 45 menit dari Siak Sriindrapura. Kalau dari ibukota provinsi, sekitar 120 km ditempuh sekitar 2-3 jam dari Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Melewati Desa Dayun dan masuk Gate Camp Zamrud (Security Gate Zamrud) melalui jaringan Jalan Konsesi BOB PT Bumi Siak Pusako (BSP). Masuk ke lokasi danau, dilakukan dengan pompong kecil yang bermuatan 4-7 orang. Airnya berwarna coklat kekuningan, banyak rasau di kiri-kanan jalan, ada ikan arwana, tapah, toman, belida, dan buaya. Yang terakhir ini, yang buat pening, takut pula kalau berjumpa.
Bermula sekitar tahun 2001. Waktu itu, Julius Tahija pimpinan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) berkeinginan kuat menjadikan salah satu ladang minyak menjadi cagar alam. Gayung bersambut, Pemkab Siak langsung mengajukan niat tersebut kepada pemerintah pusat. Perjalanan panjang terjadi, sampai akhirnya 15 tahun kemudian, tepatnya 22 Juli 2016, niat baik tersebut terwujud.
TNZ merupakan taman nasional yang berbasis gambut. Memiliki lahan seluas 31.480 hektare. Terdapat dua danau yaitu Danau Pulau Besar (2.416 hektare) yang terdiri dari empat pulau yaitu Pulau Besar, Pulau Tengah, Pulau Bungsu, serta Pulau Beruk. Satu lagi bernama Danau Bawah dengan luas mencapai 360 hektare. Ada berbagai jenis satwa liar hidup di kawasan ini. BBKSDA Riau mencatat 38 jenis burung yang 12 jenisnya merupakan dilindungi, serta berbagai jenis ikan.
Rentang tahun 1974-1982 pengeboran minyak mulai dilaksanakan di kawasan ini dengan melakukan pengeboran miring (directional drilling). Tidak tegak lurus dengan permukaan tanah, dimaksudkan tidak merusak danau di atasnya. Biayanya capai jutaan dollar AS, diperkirakan enam kali lipat dari biaya normal. Cukup tinggi pada masa itu. Lokasi awal pengeboran dilakukan sejauh mungkin dari danau, dengan tujuan untuk menghindari pencemaran yang dapat terjadi dari kegiatan eksplorasi. Selama proses eksplorasi ini, Menteri Kehutanan dan Perkebunan terus memantau kawasan. Terutama melihat janji perusahaan yang tidak akan merusak hutan dan lingkungan.
Emas bukan sembarang emas. ‘Emas Hitam’ adalah kiasan atau istilah yang sering dipergunakan untuk menyebut minyak bumi. Mineral yang berwarna gelap dan berbentuk cair ini memang tidak mudah didapatkan. Perlu proses panjang, teknologi, komitmen dan dukungan banyak pihak. Dan syukurnya Riau mendapatkan anugerah memiliki banyak potensi sumber-sumber minyak, termasuk di taman nasional ini.
Tahun 2002, areal tambang berganti pengelola dari PT CPI kepada Badan Operasi Bersama (BOB) PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu. Ladang minyak Zamrud merupakan salah satu wilayah kerja pertambangan Coastal Plains Pekanbaru Block (CPP Block) diserahkan oleh pemerintah kepada BP MIGAS dan Konsorsium PT Bumi Siak Pusako Pertamina Hulu. Pengelolaannya berdasarkan perjanjian Kontrak Production Sharing (KPS) tanggal 8 Agustus 2002 untuk jangka waktu 20 tahun. ‘’Kapten’’ berganti, tapi ‘’kapal’’ tetap sama. Minyak bumi tetap diproduksi dan fungsi kawasan sebagai taman nasional tetap berjalan hingga hari ini.
Pentingnya minyak ini, telisik punya telisik, ternyata memiliki keunggulan. Muhardison To'et, salah seorang peneliti perminyakan menyebutkan kelebihannya. ‘’Ya betul, minyak Zamrud kadar lilinnya tinggi. Minyaknya mahal dibanding ladang minyak lainnya. Untuk itulah sepanjang pipa dibuat pengamanan yang maksimal,’’ sebutnya seraya membandingkan dengan ladang minyak Bekasap Duri.
External Affairs Manager BOB Nazaruddin bercerita banyak tentang kondisi terkini ‘’emas hitam’’ tersebut. Masih beroperasi sekitar 544 sumur produksi dan 115 sumur injeksi. ‘’Kawasan Zamrud ini memang memiliki arti yang strategis buat BOB. Selain ekplorasi minyak untuk kepentingan nasional, juga pengelolaan kawasan untuk pelestarian lingkungan. Bahkan, rencana eksplorasi 120 ladang minyak baru, juga akan diprioritaskan tanpa merusak lingkungan,’’ tuturnya. Jika melihat hasil kajian BOB, minyak taman nasional ini bernilai Rp 150 Triliun. Sungguh duit yang tidak sedikit.
Taman Nasional Riau Menuju Warisan Dunia

Membedah tiga taman nasional ini, tentu tidak akan pernah berakhir, terus mengalir. Indonesia sudah memiliki tujuh taman nasional yang masuk situs warisan dunia UNESCO. Antara lain Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Sembilang, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Lorentz. Memang diakui, tujuh kawasan itu, sangat menarik dan patut diberikan anugerah.
Lalu, bagaimana dengan taman nasional di Riau? Hingga kini, ketiga taman ini belum termasuk situs warisan dunia atau bagian dari World Network of Biosphere. Walaupun secara detail, pesona, khazanah, dan alamnya tidak kalah menakjubkan. ‘’Berkenaan situs warisan dunia, memang ada beberapa kriteria untuk bisa masuk ke dalam situs tersebut. Kewenangan terhadap hal ini bukan hanya ada pada pengelola, tetapi perlu melibatkan para pihak, baik pemda, pemerintah pusat, stakeholder sekitar kawasan serta LSM,’’sebut Fifin.
Jelang prediket itu didapat, baiknya kawasan ini patut dijaga. Teringat petuah orang tua-tua Melayu tentang menjaga amanah alam lingkungan. Budayawan Serantau H Tenas Effendi dalam buku berjudul ‘’Tunjuk Ajar Melayu’’ selalu mengingatkan bahwa menjaga hutan dan alam adalah sebuah keharusan. Orang Melayu tradisional yang hakikatnya hidup sebagai nelayan dan petani amat bersebati dengan alam lingkungannya. Kehidupan mereka menjadikan alam sebagai tempat mencari nafkah. Kalau binasa hutan yang lebat, rusak lembaga hilanglah adat, begitu nasihat Datuk Tennas yang bergelar Sri Budaya Junjungan Negeri ini.
Menyadari eratnya kaitan antara kehidupan manusia dengan alam, menyebabkan orang Melayu berupaya memelihara serta menjaga kelestarian dan keseimbangan alam lingkunganya. Dalam adat istiadat ditetapkan ‘’pantang larang’’ yang berkaitan dengan pemeliharaan serta pemanfaatan alam, mulai dari hutan, tanah, laut, selat, tokong, pulau, suak, sungai, tasik, danau, sampai kepada kawasan yang menjadi kampung halaman, dusun, ladang, kebun, dan sejenisnya.
Orang tua-tua masa silam amat menyadari pentingnya pemeliharaan dan pemanfaatan alam sekitar secara seimbang. Ketentuan adat yang mereka pakai memiliki sanksi hukum yang berat terhadap perusak alam. Sebab, perusak alam bukan hanya merusak sumber ekonomi, tetapi juga membinasakan sumber berbagai kegiatan budaya, pengobatan, dan lain-lain yang diperlukan oleh masyarakat.
BBKSDA Riau sudah menyatakan komitmen untuk terus melestarikan taman nasional ini di tengah kekuatan dan kelemahan yang ada. Fifin mengakui keterbatasan bukanlah sesuatu yang patut ditangisi dan harus selalu optimis. ‘’Mengelola kawasan taman nasional memang tidak mudah. Inovasi takkan pernah berhenti. Masalah akan datang silih berganti,’’ sebutnya.
Sebagai contoh, TNZ yang tersebar dalam 21 kawasan hanya memiliki jumlah Polisi Kehutanan (Polhut) 48 orang. TNBT tak jauh beda, dengan wilayah seluas 144 ribu hektar, di dua provinsi, hanya dijaga 28 polhut. Begitu pula dengan TNTN hanya diawasi 22 polhut dan 1 PPNS. ‘’Strategi yang dilakukan, selain penambahan jumlah personil melalui penambahan personil tenaga upah, juga berupaya mendorong keterlibatan masyarakat. Membangun kerjasama yang baik dalam hal penguatan fungsi dan kerjasama,’’ urai Fifin lagi. ‘’Taman nasional ini memiliki visi pengelolaan, perlindungan dan destinasi wisata. Secara sfesifik mendorong pengembangan wisata alam, kolaborasi pengelolaan dengan pemda, swasta dan masyarakat. Peningkatan upaya pencegahan dan penanggulangan gangguan kawasan serta penguatan data base potensi kawasan,’’ paparnya lebih jauh.
Sesuai UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Dan sasaran ini sudah dan akan terus terjadi di tiga kawasan ini. Kini mewujudkan itu, terpulang pada kita semua, dan kita pun sudah tahu jawabannya.*
Fithriady Syam, Wartawan GENTA, bermastautin di Pekanbaru.
Plt Kepala Balai Besar KSDA Riau, Fifin Arfiana Jogasara melakukan pengecekan ke kandang transit satwa, untuk selanjutnya Tapir ini akan dikebalikan ke Taman Nasonal.
Tim PWI Riau saat melaksanakan ekpedisi di tiga Taman Nasional Riau (Foto: Jonathan)
Comments (3)
https://riauhits.com/berita-taman-nasional-riau-menuju-warisan-dunia.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?
Reply