Seorang Anak Meninggal akibat Difteri, Ini Permintaan DPRD Pekanbaru kepada Diskes

Logo
Ilustrasi.

(RIAUHITS.COM) PEKANBARU - Adanya korban anak-anak yang meninggal dunia karena kasus difteri di Kecamatan Tampan, Pekanbaru, sangat disesalkan kalangan DPRD Pekanbaru. Kasus semacam itu sejatinya tidak perlu terjadi jika para orangtua memiliki kesadaran atas kesehatan anak-anaknya, termasuk juga pengawasan intensif dari Diskes Pekanbaru selaku leading sector-nya.

Menurut Sekretaris Komisi III DPRD Pekanbaru, Aidil Amri S.Sos, Kamis (11/10/2018), pihaknya meminta agar ke depannya tidak ada lagi korban yang meninggal dunia karena kasus yang sama. Penanganan difteri di Pekanbaru tentunya dilakukan dengan preventif dan promotif.

"Libatkan Puskesmas dan pihak terkait lainnya. Tujuannya agar penanganan difteri ini dapat dilakukan dengan cepat dan tanggap," ujarnya.

Difteri sendiri merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium, dengan gejala berupa sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan. Adapun dalam kasus yang parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain, seperti jantung dan sistem saraf.

Sejumlah pasien pun mengalami infeksi kulit. Bakteri penyebab penyakit itu menghasilkan racun yang berbahaya jika menyebar ke bagian tubuh lain. Korban yang rentan terserang difteri pada tiga kelompok umur, yakni 1-3 tahun, 3-7 tahun dan 7-19 tahun. Terpenting lagi, DPRD Pekanbaru mengharapkan kepada Diskes dan Puskesmas turun ke daerah-daerah yang rawan terjangkit difteri.

Misalnya saja dari rilis Diskes kemarin, di Kecamatan Tampan serta di Rejosari Tenayan Raya, yang sudah jatuh korban. Aksi tanggap itu harus segera dilakukan dengan sistem jemput bola, seperti datang ke rumah penduduk yang punya anak–anak untuk imunisasi sehingga melakukan imunisasi menyeluruh dan diharapkan dengan demikian difteri dapat ditekan.

Ditambahkannya, sesuai dengan Permenkes RI No 12 tahun 2017 pasal 44 yang menyebutkan bahwa salah satunya ikut melakukan sosialisasi, turut serta melakukan Imunisasi dan pemantauan imunisasi

"Diskes juga kami harapkan melibatkan masyarakat, pihak swasta untuk memerangi dan menanggulangi penyakit difteri ini," imbaunya.

Kendati Diskes sudah punya data bahwa sampai Oktober ini kasus difteri di Kota Pekanbaru sudah ada 5 kasus, dengan satu korban meninggal dunia, dewan tetap menekankan agar Diskes melakukan penyelidikan di lapangan untuk mengetahui jumlah sesungguhnya sebaran difteri. Pasalnya, jika hanya berpedoman dengan data yang ada saja, bisa saja ada kasus baru karena jauh dari pemantauan.

“Makanya kami tekankan agar pemerintah serius menangani kasus ini karena kasus difteri penularannya sangat mudah sekali," tegas politikus Demokrat tersebut.

Plt Kadiskes Pekanbaru dr Rizaldi Zaini sebelumnya menyatakan, jika ada kasus difteri hingga menyebabkan meninggal dunia, kejadian tersebut termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB). Untuk di Kota Pekanbaru, total kasus difteri hingga Oktober ini sebanyak 5 kasus, terdiri dari 4 kasus di Kecamatan Tampan (satu korban meninggal dunia), serta 1 kasus lagi ditemukan di Kelurahan Rejosari, Tenayan Raya.

Usai ditelusuri terhadap korban meninggal dunia, petugas dari Diskes mendapatkan informasi bahwa anak yang meninggal dunia akibat difteri tersebut memang tidak pernah diimunisasi.

"Ini perlu menjadi perhatian kami, jika anak kami tidak mendapatkan perlindungan kekebalan khusus, maka sangat rentan terkena difetri. Kami berharap orangtua segera memberikan imunisasi kepada anaknya yang belum diberikan imunisasi, baik imunisasi MR maupun imunisasi difteri," jelasnya.

Kata dia lagi, di samping vaksin MR, anak-anak pun harus mendapatkan imuniasi difteri, pertusis, dan tetanus atau biasa dikenal dengan istilah imunisasi DPT.(rzt)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)