Sambut Dewan Energi Nasional, PTPN IV PalmCo Komitmen Optimalisasi EBT Berkelanjutan

Logo

RIAUHITS.COM, PEKANBARU - PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo berkomitmen optimalisasi pemanfaatan limbah industri kelapa sawit menjadi bauran energi baru dan terbarukan (EBT) kepada Dewan Energi Nasional (DEN), sebagai bagian dari dukungan perusahaan terhadap penguatan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Inisiatif tersebut disampaikan dalam kunjungan tim Dewan Energi Nasional (DEN) yang dipimpin  Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc., Anggota Unsur Pemangku Kepentingan Bidang Teknologi DEN ke PTPN IV Regional III di Pekanbaru, Riau.

Dalam penjelasannya, Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso menyatakan bahwa saat ini PTPN IV menjadi salah satu pionir dalam pemanfaatan produk samping dan limbah sawit, mulai dari pemanfaatan palm oil mill effluent (POME) menjadi biogas hingga potensi pengembangan tandan kosong sawit sebagai sumber energi alternatif.

Di wilayah operasional Riau saja, Regional III saat ini memiliki enam instalasi pemanfaatan biogas, yang terdiri atas dua Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) di PKS Tandun (TAN) dan Terantam (TER), serta empat instalasi biogas co-firing di PKS Sei Pagar (SPA), Lubuk Dalam (LDA), Sei Tapung (STA), dan Sei Rokan (SRO). 

“Kami berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan limbah yang kami hasilkan. Potensinya cukup besar dan kami terus berupaya agar limbah ini dapat memberikan nilai tambah,” kata Bambang.

Menurut dia, pengembangan EBT berbasis limbah sawit menjadi bagian penting dari upaya PalmCo membangun operasional perkebunan dan industri sawit yang semakin efisien serta berkelanjutan.

Dalam paparannya, Bambang menjelaskan bahwa PalmCo memetakan beragam potensi produk samping industri sawit. Cangkang dan serat sawit, misalnya, telah dimanfaatkan sebagai biomassa untuk operasional pabrik. 

Sementara tandan kosong sawit atau tankos selain dapat dimanfaatkan sebagai mulsa, kompos dan bahan serat, juga memiliki peluang dikembangkan lebih lanjut menjadi bioetanol dan syngas, meski teknologi tersebut masih memerlukan pengujian keandalan.

Adapun POME atau limbah cair pabrik kelapa sawit memiliki potensi dikonversi menjadi biogas yang kemudian dapat dimanfaatkan melalui co-firing, PLTBg hingga dikembangkan menjadi compressed biomethane gas (CBG).

Di Regional III, POME diproses melalui teknologi penangkapan metana seperti covered lagoon maupun continuous stirred tank reactor (CSTR). Biogas yang dihasilkan selanjutnya dapat digunakan untuk menghasilkan listrik melalui gas engine ataupun dimanfaatkan sebagai bahan bakar pendamping pada proses pengolahan di pabrik kelapa sawit. 

Sementara itu, Unggul Priyanto mengatakan pengembangan energi berbasis sumber daya domestik menjadi semakin penting seiring langkah pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional.

Ia menjelaskan Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan DEN untuk mempersiapkan pengembangan E50, yakni perluasan penggunaan etanol sebagai campuran bensin. Arahan persiapan E50 tersebut disampaikan Presiden dalam Sidang Paripurna DEN pada 17 September 2026, setelah pemerintah menjalankan program mandatori biodiesel B50. 

Menurut Unggul, salah satu pekerjaan yang perlu dipersiapkan adalah penyusunan peta jalan atau roadmap ketersediaan bahan baku etanol, antara lain dari tebu, singkong, jagung maupun sorgum.

Ia menyebut peluang pengembangan bahan baku tidak berhenti pada komoditas tersebut. Limbah biomassa seperti tandan kosong kelapa sawit juga dinilai memiliki potensi untuk dikaji lebih jauh sebagai bahan baku energi, kendati membutuhkan penguasaan teknologi yang relatif maju.

Ia mengatakan terdapat tiga jalur yang tengah menjadi perhatian dalam akselerasi bahan bakar domestik, yakni E50, biohidrokarbon atau bensin sawit, serta coal to liquid (CTL). Untuk biohidrokarbon, bahan bakar seperti green gasoline, sustainable aviation fuel (SAF) dan HVO dapat dikembangkan dari CPO maupun produk turunannya melalui proses hydrodeoxygenation dan upgrading.

“Ke depan, tantangannya bagaimana sumber daya yang kita miliki dapat benar-benar dikonversi menjadi sumber energi domestik. Teknologinya memang semakin maju, tetapi peluangnya juga sangat besar,” ujar Unggul.

Pengembangan tersebut, lanjut dia, penting tidak hanya untuk memperbesar porsi energi terbarukan, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.(izl)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-sambut-dewan-energi-nasional-ptpn-iv-palmco-komitmen-optimalisasi-ebt-berkelanjutan.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)