Pameran Naskah Kuno, Ingatan Kolektif yang Dihidupkan Kembali di Dispusip Pekanbaru

Logo
Muhammad Amin, Kadispusip kota Pekanbaru

RIAUHITS.COM, PEKANBARU - Jejak peradaban masa lampau tidak selalu tersimpan dalam bangunan tua atau artefak berusia ratusan tahun. Di antara lembaran kertas yang ditulis tangan, aksara Arab-Melayu, bahasa Sansekerta kuno, hingga catatan tentang tafsir maupun tarekat dan ajaran kehidupan, tersimpan ingatan kolektif yang membentuk cara masyarakat memandang ilmu, adat, dan kehidupan.

Ingatan itu kembali dihidupkan melalui Talk Show dan Pameran Naskah Kuno bertajuk “Guratan Naskah Kuno” di Perpustakaan Tenas Effendy, Pekanbaru, bertemakan membedah ingatan kolektif nasional melalui jejak sejarah dan literatur masa lampau yang digelar pada Senin (14/09/26).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan literasi masa lampau sekaligus mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak memutus hubungan dengan akar sejarah dan kebudayaannya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Pekanbaru, H. Muhammad Amin, mengatakan pameran menghadirkan 18 naskah kuno dari berbagai latar bahasa dan tema ini diharapkan tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memahami pengetahuan dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

"Naskah yang ditampilkan memiliki keragaman isi dan bahasa. Di antaranya terdapat naskah berbahasa Arab, Arab-Melayu, serta Sanskerta kuno. Sejumlah naskah juga memuat tafsir yang ditulis tangan, ajaran tarekat Naqsabandiyah, azimat, hingga petuah-petuah yang berkaitan dengan perilaku, adat, dan tabiat manusia," sebut Muhammad Amin.

Menurutnya, isi naskah-naskah tersebut memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat saat ini. Pesan yang terkandung di dalamnya tidak semata-mata menjadi catatan sejarah, tetapi juga menawarkan perspektif mengenai bagaimana manusia bersikap, bermasyarakat, menuntut ilmu, dan menjaga nilai-nilai kehidupan.

“Kalau kita pelajari, ini merupakan ajaran nenek moyang kita tentang bagaimana bermasyarakat serta mencari ilmu dengan sebaik-baiknya,” kata Muhammad Amin.

Ia mengatakan, masih banyak naskah kuno yang diyakini berada di tengah masyarakat dan belum seluruhnya tergali, teridentifikasi, maupun terdokumentasikan. Kondisi itu membuat upaya penggalian dan pelestarian naskah kuno menjadi pekerjaan penting yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.

"Naskah-naskah kuno bukan sekadar benda koleksi. Di dalamnya terdapat rekaman pengetahuan, bahasa, pemikiran, tradisi, kepercayaan, serta tata kehidupan masyarakat pada zamannya. Karena itu, keberadaan naskah kuno perlu ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan kebudayaan yang dapat dipelajari lintas generasi," sebutnya.

Bagi Dispusip Kota Pekanbaru, tantangannya bukan hanya menjaga naskah agar tetap tersimpan, tetapi juga membuat pengetahuan yang terkandung di dalamnya dapat dipahami masyarakat.

"Tugas tersebut kemudian diarahkan pada pengembangan literasi berbasis naskah kuno. Masyarakat tidak hanya diajak untuk melihat naskah sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga memahami konteks, nilai, dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya," jelas Muhammad Amin.

Ia pun mengatakan, membaca naskah kuno berarti membaca jejak pemikiran orang-orang yang hidup jauh sebelum generasi sekarang. Dari sana, masyarakat dapat melihat bagaimana ilmu ditransmisikan, bagaimana adat dibentuk, bagaimana hubungan sosial diatur, serta bagaimana nilai-nilai kehidupan diwariskan.

"Ini menjadi bagian dari penataan literasi bagi masyarakat, yaitu membangun kemampuan masyarakat dalam hal pengetahuan dan penjelasan mengenai naskah kuno menuju sebuah peradaban yang berdaya saing," katanya.

Pameran ini juga menyasar kelompok masyarakat yang beragam yakni komunitas, guru, peserta didik, penulis, dan masyarakat umum menjadi bagian dari peserta yang diharapkan dapat mengenal lebih dekat warisan literasi tersebut.

"Pada akhirnya, naskah kuno bukan hanya tentang aksara yang sulit dibaca atau kertas yang menua dimakan zaman. Ia adalah fragmen ingatan yang menyimpan suara sebuah masyarakat. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan," tutup Kadispusip kota Pekanbaru.

Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati hari kunjungan ke Perpustakaan Tenas Effendy. Pelaksanaannya melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Kebudayaan Melayu Riau, serta Bunda Literasi. *(mrz)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-pameran-naskah-kuno-ingatan-kolektif-yang-dihidupkan-kembali-di-dispusip-pekanbaru.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)