Merawat Akar di Tanah Rantau, Kisah Kawanua Pekanbaru Menjaga Persaudaraan Lintas Iman

Logo
Melvin Alexander Sulu

RIAUHITS.COM, PEKANBARU - Di tengah dinamika kehidupan kota Pekanbaru yang terus bertumbuh, sebuah komunitas perantau dari Sulawesi Utara menunjukkan bahwa identitas, kebersamaan, dan toleransi dapat tetap hidup, bahkan jauh dari kampung halaman. 

Mereka menyebut diri sebagai Kawanua sebuah istilah yang merujuk pada orang-orang asal Manado dan sekitarnya yang merantau, baik di dalam negeri maupun ke mancanegara.

Ketua Ketua Kerukunan Keluarga Kawanua Pekanbaru, Melvin Alexander Sulu mengatakan bahwa komunitas ini menjadi wadah bagi para perantau untuk saling terhubung, berbagi, dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan, sehingga semangat kekeluargaan akan terus terjaga.

"Di Pekanbaru, kami rutin mengadakan pertemuan bulanan, kegiatan sosial, hingga acara keagamaan," ujar Melvin.

Saat ini, jumlah anggota yang terdaftar berkisar antara 300 hingga hampir 400 orang. Namun, Melvin mengakui bahwa jumlah tersebut belum mencerminkan keseluruhan warga Kawanua di Pekanbaru. 

"Masih banyak yang belum terdaftar karena berbagai kesibukan atau alasan pribadi," tambah Melvin.

Kegiatan komunitas ini menurut Melvin tidak hanya bersifat seremonial. Selain pertemuan rutin, mereka juga aktif menggelar bakti sosial dan perayaan keagamaan lintas iman. Dalam satu tahun, agenda mereka mencakup perayaan Natal, ibadah bersama, serta Halal Bihalal seperti yang digelar pada momen Idul Fitri.

"Keberagaman agama di tubuh komunitas ini justru menjadi kekuatan utama. Meski secara historis masyarakat Sulawesi Utara didominasi oleh umat Kristen, dinamika perantauan di Pekanbaru menghadirkan realitas baru. Banyak anggota yang telah berkeluarga lintas generasi dengan latar belakang agama berbeda, termasuk yang kini memeluk Islam," jelas Melvin.

"Namun perbedaan tersebut tidak menjadi sekat. Kami tetap satu asal, satu identitas. Perbedaan agama dan usia tidak menghalangi kami untuk menjaga toleransi, baik secara vertikal maupun horizontal," imbuhnya.

Melvin menyebutkan nilai gotong royong menjadi fondasi kuat dalam setiap kegiatan. Pada acara Halal Bihalal, misalnya, anggota non-Muslim turut berkontribusi, baik tenaga maupun materi. Sebaliknya, saat perayaan Natal, anggota Muslim juga ambil bagian dalam mendukung kegiatan.

"Di tengah potensi gesekan sosial yang kerap muncul akibat perbedaan identitas, kisah kita Kawanua Pekanbaru ini menjadi potret harmoni yang nyata. Kami tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga membangun jembatan antar iman membuktikan bahwa persaudaraan sejati tidak mengenal batas keyakinan," tutupnya.

Di tanah rantau, mereka mungkin jauh dari kampung halaman. Namun melalui kebersamaan yang terus dirawat, Kawanua Pekanbaru memastikan bahwa akar budaya dan nilai persaudaraan tetap tumbuh kuat, di mana pun mereka berada. *(mrz)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-merawat-akar-di-tanah-rantau-kisah-kawanua-pekanbaru-menjaga-persaudaraan-lintas-iman.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)