Menjelang Iduladha, Meredam Polarisasi di Tengah Ruang Publik yang Kian Bising

Logo

Oleh : Iswadi M.Yazid (Ketua MUI Kab. Pelalawan) 

Menjelang Iduladha, masyarakat kembali memasuki momentum keagamaan yang sarat dengan nilai pengorbanan, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Namun di tengah suasana yang seharusnya menghadirkan ketenangan batin itu, kehidupan sosial hari ini justru memperlihatkan kenyataan yang berbeda. 

Ruang publik semakin mudah dipenuhi ketegangan, perdebatan tanpa ujung, hingga kebiasaan saling menyerang hanya karena perbedaan pandangan. Fenomena tersebut tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari, terutama di media sosial. Perbedaan pilihan politik, pandangan keagamaan, hingga persoalan sosial yang sederhana sering berkembang menjadi pertikaian terbuka. 

Tidak sedikit orang lebih cepat bereaksi dengan kemarahan daripada mencoba memahami sudut pandang yang berbeda. Akibatnya, ruang publik berubah menjadi arena pertarungan opini yang melelahkan. Ironisnya, kondisi itu terjadi di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang semakin maju. 

Akses informasi semakin cepat, interaksi semakin mudah, dan setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapatnya. Namun kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan kedewasaan dalam bersikap. Media sosial yang semestinya menjadi ruang bertukar gagasan perlahan berubah menjadi tempat mempertontonkan emosi, prasangka, dan fanatisme kelompok. 

Hari ini, seseorang bisa dengan mudah dicap buruk hanya karena memiliki pandangan yang tidak sama. Perbedaan sering dianggap ancaman, bukan bagian alami dari kehidupan sosial. Kritik tidak lagi dipahami sebagai upaya memperbaiki keadaan, melainkan dipandang sebagai serangan yang harus dibalas. Dalam situasi seperti ini, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan untuk berdialog secara sehat. Padahal bangsa ini dibangun di atas keberagaman. Perbedaan suku, agama, pilihan politik, maupun pandangan sosial seharusnya menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama. 

Yang berbahaya bukanlah perbedaannya, melainkan ketika perbedaan dipelihara menjadi permusuhan. Ketika ego kelompok lebih diutamakan daripada rasa persaudaraan, maka ruang sosial akan dipenuhi sekat yang semakin sulit dipertemukan. Di sinilah Iduladha menjadi sangat relevan untuk direnungkan kembali. Hari raya kurban tidak hanya berbicara tentang ritual penyembelihan hewan, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang pengendalian diri dan pengorbanan ego. 

Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa pengorbanan terbesar bukan sekadar tentang materi, melainkan tentang ketulusan menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi. Makna kurban hari ini menjadi semakin penting di tengah masyarakat yang mudah terpolarisasi. Pengorbanan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan terlihat. 

Dalam kehidupan sosial modern, pengorbanan bisa hadir dalam bentuk yang sederhana namun sangat berarti: menahan amarah saat berbeda pendapat, tidak mudah menghina orang lain, berhenti menyebarkan kebencian, dan belajar menghormati pandangan yang tidak sejalan dengan keyakinan pribadi. 

Barangkali yang paling sulit dikorbankan manusia modern hari ini bukan harta, melainkan ego dan keinginan untuk selalu merasa paling benar. Kalimat itu terasa sangat relevan dengan situasi publik saat ini. Banyak orang rela mengorbankan hubungan sosial demi mempertahankan fanatisme kelompok. Tidak sedikit yang lebih sibuk memenangkan perdebatan dibanding membangun pengertian. Padahal kemenangan yang diperoleh dengan merendahkan orang lain hanya akan meninggalkan luka sosial yang berkepanjangan. 

Semangat Iduladha sesungguhnya mengajarkan hal yang berbeda. Daging kurban dibagikan kepada siapa saja tanpa melihat latar belakang sosial, pilihan politik, maupun identitas kelompok. Semua dipandang setara sebagai sesama manusia yang memiliki hak untuk dihormati dan dibantu. Nilai solidaritas inilah yang seharusnya kembali dihidupkan di tengah masyarakat yang hari ini semakin mudah terpecah oleh kepentingan sesaat. 

Momentum haji juga menghadirkan simbol persamaan yang sangat kuat. Jutaan manusia berkumpul di Tanah Suci tanpa sekat jabatan, kekayaan, atau status sosial. Semua mengenakan pakaian yang sederhana, berdiri di tempat yang sama, dan memanjatkan doa kepada Tuhan yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi karena kekuasaan, dan tidak ada yang lebih rendah karena keterbatasan ekonomi. Pesan tersebut sesungguhnya sangat mendalam. 

Haji mengajarkan bahwa manusia pada akhirnya tidak dinilai dari simbol sosial yang melekat padanya, tetapi dari kualitas moral dan kemanusiaannya. Di hadapan Tuhan, yang membedakan manusia bukan kelompoknya, melainkan ketakwaan dan ketulusan hatinya. Sayangnya, nilai-nilai seperti itu justru sering hilang dalam kehidupan sosial sehari-hari. Ruang publik lebih sering dipenuhi perlombaan memenangkan opini daripada upaya membangun empati. Banyak orang sibuk mempertahankan identitas kelompok, tetapi lupa menjaga rasa kemanusiaan. 

Bahkan tidak sedikit yang merasa paling benar sambil kehilangan kemampuan menghormati pihak lain. Kondisi tersebut tentu tidak boleh dianggap biasa. Polarisasi sosial yang terus dipelihara hanya akan melahirkan kelelahan kolektif. Masyarakat akan semakin sulit membangun kepercayaan satu sama lain. Perbedaan kecil mudah membesar menjadi konflik yang mengganggu persatuan sosial. Dalam jangka panjang, keadaan ini dapat melemahkan kohesi masyarakat dan merusak semangat kebangsaan. 

Kita dapat melihat bagaimana ruang digital hari ini sering dipenuhi kemarahan yang tidak produktif. Banyak orang lebih mudah menyebarkan potongan informasi yang memancing emosi dibanding menghadirkan percakapan yang menenangkan. Tidak sedikit pula yang merasa lebih nyaman berada dalam kelompok yang hanya menguatkan pandangannya sendiri, tanpa memberi ruang bagi perbedaan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sedang menghadapi krisis empati. Orang semakin mudah berbicara, tetapi semakin sulit mendengar. Semakin cepat menghakimi, tetapi semakin jarang mencoba memahami. 

Akibatnya, hubungan sosial menjadi rapuh dan mudah diprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah. Karena itu, menjelang Iduladha, masyarakat perlu menjadikan momentum ini sebagai ruang refleksi bersama. Bahwa semangat pengorbanan tidak hanya berkaitan dengan apa yang diberikan, tetapi juga tentang apa yang harus dikendalikan dalam diri masing-masing. Menahan ego, meredam kebencian, dan menghormati perbedaan adalah bentuk pengorbanan sosial yang sangat dibutuhkan hari ini. 

Dalam konteks kehidupan modern, menjaga persaudaraan justru menjadi tantangan yang tidak mudah. Arus informasi yang begitu deras sering membuat orang bereaksi tanpa berpikir panjang. Perdebatan di media sosial kerap membuat seseorang lupa bahwa di balik setiap akun dan komentar, ada manusia yang juga ingin dihargai. 

Iduladha hadir untuk mengingatkan bahwa kemanusiaan harus selalu lebih besar daripada fanatisme kelompok. Bahwa persaudaraan lebih penting daripada permusuhan yang dipelihara terus-menerus. Dan bahwa empati jauh lebih bernilai dibanding kemenangan sesaat dalam perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa. Masyarakat tentu tidak mungkin hidup tanpa perbedaan. Namun perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling membenci. Justru di tengah keberagaman itulah kedewasaan sosial diuji. 

Bangsa yang kuat bukan bangsa yang seluruh warganya memiliki pandangan yang sama, melainkan bangsa yang mampu menjaga kebersamaan di tengah berbagai perbedaan. Karena itu, menjelang Iduladha, ruang publik perlu kembali diisi dengan sikap yang lebih teduh dan manusiawi. Bukan berarti semua orang harus sepakat dalam segala hal, tetapi setidaknya masyarakat dapat belajar untuk berbeda tanpa saling menjatuhkan. Sebab persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan menghargai satu sama lain. 

Iduladha tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni tahunan yang hanya diramaikan oleh rutinitas ibadah dan tradisi sosial. Lebih dari itu, momentum ini semestinya menjadi pengingat bahwa pengorbanan terbesar dalam kehidupan bersama sering kali adalah keberanian mengendalikan ego demi menjaga persaudaraan. Di tengah ruang publik yang semakin bising oleh pertikaian dan polarisasi, pesan Iduladha terasa semakin penting: bahwa manusia pada akhirnya membutuhkan kebersamaan, bukan permusuhan yang terus diwariskan. Wallahu a’lam.(**)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-menjelang-iduladha-meredam-polarisasi-di-tengah-ruang-publik-yang-kian-bising.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)