Melihat Kebaikan di Tengah Ketidaksempurnaan

Logo

Oleh: Iswadi M. Yazid

Salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan bukanlah menemukan kesempurnaan, melainkan belajar menghargai proses menuju perbaikan. Dalam realitas kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai keadaan yang belum ideal, pekerjaan yang belum sempurna, program yang masih memiliki kekurangan, bahkan manusia yang terus berjuang memperbaiki dirinya.

Namun pada saat yang sama, kita juga menyaksikan adanya upaya-upaya baik yang dilakukan untuk menghadirkan perubahan ke arah yang lebih baik.Persoalannya, tidak semua orang terbiasa melihat dua sisi tersebut secara seimbang. Ada kalanya perhatian lebih banyak tertuju pada apa yang belum tercapai dibandingkan pada langkah-langkah perbaikan yang sedang dilakukan. Akibatnya, kekurangan menjadi lebih mudah terlihat daripada ikhtiar. Kekeliruan lebih cepat dibicarakan daripada kemajuan. Padahal dalam banyak keadaan, proses menuju kebaikan sering kali lebih penting daripada kesempurnaan hasil yang ingin dicapai.

Islam mengajarkan pandangan yang sangat menarik mengenai hal ini. Agama ini tidak membangun manusia di atas fondasi kesempurnaan, melainkan di atas prinsip perbaikan berkelanjutan. Seorang muslim tidak dituntut menjadi sempurna dalam sekejap, tetapi dituntut untuk senantiasa bergerak menuju keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Menariknya, hadis tersebut tidak menyebut manusia yang paling sempurna, melainkan manusia yang paling bermanfaat.

Pandangan ini memberikan pelajaran penting bahwa nilai seseorang tidak hanya diukur dari kekurangan yang masih dimilikinya, tetapi juga dari kesungguhannya dalam memperbaiki keadaan dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Dalam kehidupan sosial, ukuran seperti ini sangat dibutuhkan agar masyarakat tidak terjebak pada budaya mencari kesalahan semata. Sebab ketika sebuah komunitas hanya sibuk mencari kekurangan, maka energi kolektif akan habis untuk mengkritik, bukan untuk memperbaiki.

Sebaliknya, ketika masyarakat mampu mengapresiasi setiap langkah kebaikan sambil tetap melakukan evaluasi secara proporsional, maka akan tumbuh suasana yang mendorong lahirnya inovasi, partisipasi, dan semangat perubahan.Al-Qur'an sendiri mengajarkan keseimbangan dalam menilai sesuatu. Allah SWT berfirman, "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya" (QS. Az-Zalzalah: 7). Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memberikan penghargaan terhadap setiap kebaikan, sekecil apa pun bentuknya. 

Bahkan sesuatu yang mungkin dianggap sederhana oleh manusia tetap memiliki nilai di sisi Allah. Dalam perspektif Al-Qur'an, tidak ada kebaikan yang sia-sia. Semua ikhtiar yang dilakukan dengan niat yang benar akan mendapatkan penilaian yang adil dari Allah SWT.Dalam perspektif ini, menghargai sebuah ikhtiar bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. 

Mengakui adanya kemajuan bukan berarti mengabaikan evaluasi. Justru keduanya harus berjalan beriringan. Sebuah masyarakat akan berkembang apabila memiliki kemampuan melakukan kritik yang membangun sekaligus memberikan apresiasi terhadap langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan. Kritik yang sehat bertujuan memperbaiki keadaan, bukan menjatuhkan. Kritik yang baik lahir dari kepedulian, bukan dari keinginan untuk mempermalukan. Oleh karena itu, budaya kritik yang konstruktif harus selalu diiringi dengan budaya penghargaan terhadap usaha dan kemajuan.

Sayangnya, perkembangan media sosial dan budaya komunikasi yang serba cepat terkadang mendorong lahirnya kebiasaan yang berbeda. Kritik lebih mudah menjadi perhatian daripada apresiasi. Kekurangan lebih cepat menyebar dibandingkan keberhasilan. Hal-hal negatif sering kali mendapatkan ruang yang lebih besar daripada upaya-upaya positif yang sebenarnya sedang berlangsung. 

Di era digital, informasi yang mengandung kontroversi cenderung lebih cepat viral dibandingkan informasi yang mengandung inspirasi. Akibatnya, masyarakat tanpa sadar lebih akrab dengan berita tentang kegagalan daripada kisah tentang perjuangan dan keberhasilan.Fenomena ini melahirkan apa yang oleh sebagian ahli disebut sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih mudah memperhatikan hal-hal negatif dibandingkan hal-hal positif. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kecenderungan ini sering membuat seseorang lupa bahwa di balik satu kekurangan yang terlihat, mungkin terdapat banyak kebaikan yang tidak diperhatikan. Kita terkadang lebih mudah menemukan cela daripada menghargai usaha. Kita lebih cepat mengomentari kekurangan daripada mengapresiasi perbaikan yang sedang berlangsung.

Padahal sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa kemajuan selalu lahir dari proses yang panjang. Tidak ada masyarakat yang berubah dalam satu malam. Tidak ada lembaga yang tumbuh tanpa kekurangan. Tidak ada pemimpin yang bekerja tanpa kesalahan. Semua kemajuan besar berawal dari langkah-langkah kecil yang terus diperbaiki dari waktu ke waktu. Bangsa-bangsa yang maju hari ini juga pernah mengalami berbagai kelemahan dan keterbatasan. Namun mereka terus bergerak, belajar dari kesalahan, memperbaiki kekurangan, dan tidak berhenti hanya karena kritik atau hambatan yang dihadapi.

Dalam sejarah Islam, proses pembangunan masyarakat Madinah juga tidak berlangsung secara instan. Rasulullah SAW membangun peradaban melalui tahapan-tahapan yang panjang. Ada proses pendidikan, pembinaan karakter, penguatan persaudaraan, penyusunan tata sosial, hingga pembentukan budaya ilmu. Semua dilakukan secara bertahap. Kesempurnaan bukanlah titik awal, melainkan tujuan yang terus diupayakan. Rasulullah SAW memahami bahwa perubahan sosial membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan komitmen jangka panjang. Karena itulah beliau tidak hanya membangun hasil, tetapi juga membangun proses yang berkelanjutan.

Pelajaran ini sangat relevan dalam kehidupan masa kini. Banyak orang ingin melihat perubahan yang cepat, tetapi kurang sabar dalam menghargai tahapan-tahapan yang harus dilalui. Kita sering kali menginginkan hasil yang sempurna tanpa memberi ruang bagi proses pembelajaran. Padahal setiap keberhasilan selalu didahului oleh berbagai percobaan, kesalahan, dan penyempurnaan. Tidak ada karya besar yang lahir tanpa proses panjang. Tidak ada perubahan yang berarti tanpa kerja keras yang berkelanjutan.

Karena itu, salah satu akhlak yang perlu kita hidupkan adalah kemampuan melihat harapan di tengah keterbatasan. Kemampuan menemukan potensi di balik kekurangan. Kemampuan menghargai ikhtiar tanpa kehilangan sikap kritis. Sikap seperti ini bukan hanya menciptakan suasana yang lebih sehat dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi juga melahirkan energi positif yang mendorong orang untuk terus berbuat baik. Ketika seseorang merasa bahwa usahanya dihargai, ia akan lebih termotivasi untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, ketika yang dilihat hanya kekurangan, semangat untuk berkontribusi bisa melemah.

Sebaliknya, apabila perhatian hanya tertuju pada kekurangan, sering kali yang lahir bukan semangat perbaikan, melainkan kelelahan sosial. Orang menjadi enggan berinisiatif karena merasa apa pun yang dilakukan tidak akan pernah dianggap cukup. Padahal perubahan membutuhkan partisipasi, keberanian mencoba, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan. Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang bebas dari kekurangan, melainkan masyarakat yang mampu mengelola kekurangan menjadi peluang untuk bertumbuh.

Sebagai muslim, kita diajarkan untuk menjadi bagian dari solusi. Ketika melihat kekurangan, kita didorong untuk membantu memperbaiki. Ketika melihat kelemahan, kita diajak untuk memberikan dukungan agar keadaan menjadi lebih baik. Dan ketika melihat sebuah ikhtiar yang sedang berjalan, kita diajarkan untuk mendoakan serta menguatkannya. Islam tidak mengajarkan budaya sinisme, tetapi mengajarkan budaya islah atau perbaikan. Setiap kritik harus bermuara pada perbaikan, dan setiap apresiasi harus menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas.

Pada akhirnya, kehidupan bukanlah tentang memilih antara melihat kekurangan atau melihat kebaikan. Keduanya harus hadir secara bersamaan. Kekurangan menjadi bahan evaluasi, sedangkan kebaikan menjadi sumber harapan. Evaluasi tanpa apresiasi akan melahirkan pesimisme. Sebaliknya, apresiasi tanpa evaluasi akan melahirkan kejumudan. Keseimbangan di antara keduanya adalah jalan yang diajarkan Islam dan menjadi syarat penting bagi lahirnya masyarakat yang sehat, produktif, dan berkemajuan.

Barangkali inilah salah satu pelajaran penting yang perlu terus kita rawat dalam kehidupan bersama: bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, tetapi setiap manusia juga memiliki peluang untuk menjadi lebih baik. Tidak ada individu, organisasi, maupun masyarakat yang terbebas dari kelemahan. Namun selama masih ada kesediaan untuk memperbaiki diri, selalu ada alasan untuk menumbuhkan harapan. Sebab kemajuan sebuah masyarakat pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak kesalahan yang berhasil ditemukan, melainkan oleh seberapa besar kemampuan seluruh elemennya untuk menghargai proses perbaikan, memperkuat semangat kebaikan, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik.wallahu a’lam.(ard)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-melihat-kebaikan-di-tengah-ketidaksempurnaan.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)