Belajar Diam dari Al-Ahnaf bin Qais

Logo

Oleh : Dr. Iswadi M.Yazid, M.Sy
(Ketua MUI Kab. Pelalawan) 

Tidak pernah dalam sejarah manusia setiap orang memiliki panggung sebesar hari ini. Melalui telepon genggam, siapa pun dapat menyampaikan pendapat, mengomentari peristiwa, mengkritik kebijakan, bahkan menghakimi seseorang yang belum pernah ditemuinya. Media sosial telah mengubah hampir semua orang menjadi "penyiar", sementara kolom komentar menjelma ruang publik tanpa batas. Informasi menyebar dalam hitungan detik, tetapi sering kali lebih cepat daripada proses berpikir.

Satu unggahan mampu memancing ribuan komentar, satu potongan video dapat memecah opini, dan satu kalimat yang ditulis tanpa pertimbangan dapat meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada jejak digitalnya. Ironisnya, semakin banyak orang berbicara, semakin sedikit yang benar-benar mendengar. Kita hidup di tengah banjir kata-kata, tetapi justru mengalami kelangkaan kebijaksanaan. 

Mengapa kita begitu cepat bereaksi, tetapi lambat berefleksi? Mengapa diam sering dipandang sebagai kelemahan, padahal boleh jadi ia adalah bentuk kedewasaan yang paling tinggi? Pertanyaan tersebut membawa kita kepada sosok tabi'in yang tidak terlalu populer, tetapi sangat relevan untuk zaman ini, yaitu Al-Ahnaf bin Qais. Ia dikenang bukan sebagai orator ulung atau pemenang perdebatan, melainkan sebagai pribadi yang sabar, cerdas, rendah hati, dan mampu mengendalikan lisan. Para sejarawan menggambarkannya sebagai pemimpin yang tenang, berwibawa, dan tidak mudah terpancing emosi. Ia dihormati oleh para ulama, dipercaya para pemimpin, dan disegani masyarakat karena integritasnya. 

Keistimewaannya bukan terletak pada banyaknya kata-kata yang diucapkan, melainkan pada kebijaksanaannya menentukan kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam. Salah satu riwayat menceritakan bahwa seseorang pernah mencaci dan menghinanya di depan banyak orang. Al-Ahnaf tidak membalas dengan kemarahan. Setelah orang itu selesai, ia hanya berkata dengan tenang, "Jika masih ada yang ingin engkau sampaikan, katakanlah sekarang. Aku khawatir nanti orang-orang kampungku mendengarnya lalu menyakitimu karena membelaku."

Jawaban itu bukan sekadar kecerdasan retorika, tetapi kemenangan atas ego. Ia memilih memadamkan api permusuhan daripada menambah bara kebencian. Dalam kesempatan lain, ketika ditanya dari mana ia memperoleh kemuliaan akhlaknya, Al-Ahnaf menjawab bahwa ia belajar dari orang-orang yang buruk perangainya; setiap keburukan yang ia lihat pada mereka, ia berusaha agar tidak ada pada dirinya. 

Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa orang bijak lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari kesalahan orang lain. Pelajaran terbesar dari Al-Ahnaf adalah bahwa diam bukanlah sikap pasif. Diam yang diajarkannya merupakan bentuk pengendalian diri, bukan ketakutan. Tidak semua provokasi harus dijawab, tidak semua hinaan harus dibalas, dan tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pertengkaran. Ada kalanya membiarkan amarah berhenti pada diri sendiri jauh lebih mulia daripada meneruskannya kepada orang lain.

Nilai inilah yang terasa semakin mahal di era digital, ketika banyak konflik lahir bukan dari persoalan besar, melainkan dari ketidakmampuan menahan respons pertama yang dipicu emosi. Budaya komunikasi kita kini semakin reaktif. Kecepatan lebih dihargai daripada ketepatan, sedangkan sensasi lebih mudah menarik perhatian daripada kebijaksanaan. Seseorang belum selesai membaca berita, tetapi sudah terburu-buru menyimpulkan.

Potongan video beberapa detik dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang. Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, sementara ujaran kebencian lebih cepat viral daripada nasihat yang menyejukkan. Algoritma media sosial bahkan cenderung mengangkat konten yang memancing emosi karena lebih banyak menghasilkan interaksi. Akibatnya, ruang digital dipenuhi suara yang saling bersahutan, tetapi miskin dialog yang sehat. Kita perlahan menjadi masyarakat yang lebih mudah menghakimi daripada memahami, lebih cepat berbicara daripada mendengar, dan lebih senang memenangkan perdebatan daripada menemukan kebenaran.

Padahal, Islam telah lama mengajarkan etika komunikasi yang luhur. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 agar setiap berita diverifikasi sebelum dipercaya dan disebarkan. Perintah tabayun itu terasa sangat relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Ayat berikutnya melarang manusia saling menghina, mencela, berprasangka buruk, dan menggunjing karena semua itu merusak persaudaraan. Dalam Surah Qaf ayat 18 Allah mengingatkan bahwa setiap ucapan dicatat oleh malaikat, sementara Surah Luqman ayat 18–19 mengajarkan kerendahan hati dan kelembutan dalam bertutur. 

Dengan demikian, menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari ketakwaan. Pesan tersebut dipertegas oleh Rasulullah SAW melalui sabda beliau, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam." Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini bukan ajakan untuk membungkam kebenaran, melainkan pedoman agar setiap ucapan membawa manfaat. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa seseorang dapat tergelincir ke dalam kebinasaan hanya karena satu kalimat yang diucapkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Betapa banyak persahabatan retak, keluarga berselisih, bahkan karier hancur hanya karena satu unggahan yang ditulis tanpa pertimbangan. Temuan psikologi modern justru menguatkan hikmah tersebut. Manusia saat ini menghadapi information overload, yaitu kondisi ketika otak dibanjiri informasi melebihi kemampuannya mengolah secara rasional. Dalam situasi seperti ini, respons emosional lebih mudah muncul daripada refleksi. Di sisi lain, algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna sehingga konten yang memancing kemarahan lebih mudah menyebar. 

Karena itu, kemampuan menahan diri menjadi bagian penting dari emotional intelligence dan self-control. Orang yang matang secara emosional bukanlah mereka yang selalu memiliki jawaban, tetapi mereka yang mampu menunda respons hingga pikirannya lebih jernih daripada emosinya. Apa yang diajarkan Al-Ahnaf bin Qais berabad-abad silam ternyata sejalan dengan ilmu komunikasi modern.

Nilai serupa juga hidup dalam budaya Melayu. Orang Melayu meyakini bahwa marwah seseorang lebih banyak ditentukan oleh lisannya daripada pakaiannya. Karena itu, mereka mewariskan petuah, "Kerana pulut santan binasa, kerana mulut badan binasa," sebagai pengingat bahwa banyak musibah lahir dari ucapan yang tidak terjaga. Petuah lain, "Terlajak perahu boleh diundur, terlajak kata buruk padahnya," mengajarkan bahwa luka akibat perkataan sering kali lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. 

Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan adab bertutur sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Keteladanan Al-Ahnaf bin Qais karena itu tidak boleh berhenti sebagai kisah sejarah. Nilainya harus dihidupkan kembali dalam keluarga, sekolah, masjid, birokrasi, dan ruang digital. Orang tua perlu mengajarkan anak bahwa tidak setiap ejekan harus dibalas. Guru perlu membiasakan peserta didik berdialog dengan santun. Para dai hendaknya menghadirkan dakwah yang menyejukkan, sementara para pemimpin perlu memberi teladan dalam berkomunikasi. 

Di media sosial, kita membutuhkan lebih banyak konten yang menyebarkan hikmah daripada kemarahan. Pada akhirnya, dunia modern tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Yang semakin langka adalah mereka yang mampu menjaga lisan, mendengar dengan empati, dan memilih diam ketika diam lebih membawa kemaslahatan. Al-Ahnaf bin Qais mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan memenangkan diri sendiri. Seseorang yang mampu mengendalikan lisannya sesungguhnya sedang menjaga kehormatan dirinya, memelihara persaudaraan, dan merawat peradaban. 

Di zaman ketika hampir semua orang berlomba menjadi yang paling cepat berkomentar, kita justru memerlukan lebih banyak pribadi yang berani menahan diri, berpikir sebelum berbicara, dan menjadikan hikmah sebagai penuntun setiap kata. Dunia mungkin tidak kekurangan pembicara, tetapi sedang sangat membutuhkan pendengar yang bijaksana. Sebab, sering kali satu diam yang lahir dari hikmah jauh lebih bernilai daripada seribu kata yang lahir dari amarah.wallahu a’lam.(ard)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://riauhits.com/berita-belajar-diam-dari-alahnaf-bin-qais.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)